Kemenhaj Minta Jemaah Batasi Aktivitas Fisik Jelang Puncak Haji

Kemenhaj Minta Jemaah Batasi Aktivitas Fisik Jelang Puncak Haji
Foto: Ilustrasi Kemenhaj Minta Jemaah Batasi Aktivitas Fisik Jelang Puncak Haji.

Kementerian Haji dan Umrah mengimbau jemaah haji Indonesia untuk membatasi aktivitas fisik guna menghadapi cuaca ekstrem di Arab Saudi menjelang fase puncak haji. Peringatan ini dikeluarkan pada Senin (11/5/2026) menyusul suhu udara yang mencapai 42 derajat Celcius di Makkah dan Madinah, sebagaimana dilansir dari Detikcom.

Juru bicara Kementerian Haji dan Umrah, Maria Assegaff, memberikan penekanan khusus terkait pentingnya menjaga kesiapan fisik, mental, hingga spiritual. Langkah ini diambil agar para jemaah dapat menjalankan ibadah inti dengan kondisi kesehatan yang optimal di tengah tantangan cuaca yang sangat panas.

"Kami meminta jemaah untuk mulai menghemat tenaga sejak dini. Jangan memaksakan diri melakukan aktivitas-aktivitas yang tidak mendesak, terutama aktivitas di luar hotel pada siang hari," ujar Maria Assegaff, Juru bicara Kementerian Haji dan Umrah.

Pemerintah melaporkan bahwa suhu udara saat ini berkisar antara 38 hingga 42 derajat Celcius. Situasi tersebut menuntut para jemaah untuk lebih disiplin dalam mengatur jadwal harian mereka selama berada di tanah suci agar tidak mengalami kelelahan yang berlebihan.

"Sekali lagi utamakan ibadah wajib, perbanyak istirahat, makan tepat waktu, dan tentunya cukup minum air putih," tegas Maria Assegaff, Juru bicara Kementerian Haji dan Umrah.

Beberapa panduan keselamatan telah disusun bagi jemaah yang tetap harus keluar ruangan, seperti penggunaan alas kaki, membawa identitas diri, serta memakai pelindung kepala. Selain itu, jemaah disarankan segera beristirahat jika tubuh sudah mulai merasa lelah guna menghindari risiko kesehatan yang lebih serius.

"Selalu berkoordinasi dengan ketua regu, rombongan, petugas kesehatan, hingga petugas sektor," tambah Maria Assegaff, Juru bicara Kementerian Haji dan Umrah.

Maria mengingatkan kelompok jemaah lanjut usia, penyandang disabilitas, dan jemaah risiko tinggi agar tetap menjalin komunikasi yang intensif dengan petugas di lapangan. Kesadaran untuk melaporkan gejala kesehatan sekecil apa pun, seperti pusing atau nyeri dada, menjadi kunci penanganan dini oleh petugas medis.

"Kesehatan adalah bekal utama menuju puncak haji. Jangan menunggu kondisi memburuk, segera sampaikan keluhan kepada petugas agar dapat ditangani sejak awal," pesan Maria Assegaff, Juru bicara Kementerian Haji dan Umrah.

Pemerintah juga menyoroti peran Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) dalam memantau kondisi fisik jemaah. KBIHU diminta tidak hanya fokus pada materi manasik, tetapi juga aktif dalam memberikan edukasi mengenai aspek keselamatan dan kedisiplinan selama pelaksanaan ibadah.

"KBIHU memiliki kedekatan langsung dengan jemaah. Kami berharap KBIHU ikut memperkuat orientasi kesehatan, keselamatan, ketertiban, dan kedisiplinan jemaah," kata Maria Assegaff, Juru bicara Kementerian Haji dan Umrah.

Sinergi antara KBIHU dan petugas haji Indonesia sangat diharapkan untuk mencegah jemaah melakukan aktivitas fisik yang melampaui batas kemampuan tubuh. Hal ini dipandang sebagai bentuk usaha nyata dalam mencapai kesempurnaan ibadah haji tahun ini.

"Menjaga kesehatan juga merupakan bagian dari ikhtiar penyempurnaan ibadah," pungkas Maria Assegaff, Juru bicara Kementerian Haji dan Umrah.

Artikel terkait

Rekomendasi