Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga atau BKKBN memperkuat konsep care economy melalui sistem perawatan berbasis keluarga dan komunitas di Jakarta pada Selasa (26/05/2026). Langkah ini diambil guna merespons peningkatan jumlah lanjut usia yang tinggal sendiri di Indonesia.
Penguatan sistem tersebut berfokus pada pelibatan aktif lingkungan sekitar, bukan bersandar pada panti jompo, seperti dilansir dari Investor Daily. Berdasarkan data Survei Penduduk Antar Sensus Badan Pusat Statistik tahun 2025, proporsi lansia nasional menyentuh 11,97 persen, dengan 49,66 persen di antaranya hidup sendiri, serta 23 provinsi telah memasuki fase penuaan penduduk.
Pelaksana Tugas Direktur Bina Ketahanan Keluarga Lanjut Usia dan Rentan Kemendukbangga, Elsa Pongtuluran menjelaskan bahwa strategi ini menyasar kelompok yang membutuhkan bantuan intensif.
"Pendampingan diberikan terutama bagi lansia dengan keterbatasan aktivitas harian atau bedridden (lebih banyak beraktivitas di tempat tidur)," ujarnya di Jakarta, Selasa (26/05/2026), seperti dikutip dari Antara.
Upaya mitigasi ini juga diwujudkan melalui Program Lansia Berdaya yang mencakup sekolah lansia, perawatan jangka panjang, dan edukasi lintas generasi. Program perawatan jangka panjang tersebut dirancang khusus untuk membekali pendamping dekat dengan keterampilan praktis.
"Program long term care juga melatih keluarga dan caregiver mengenai teknik perawatan lansia, mulai dari memandikan di tempat tidur hingga memindahkan lansia ke kursi roda secara aman agar tidak menimbulkan cedera bagi pendamping," ucap Elsa.
Selain aspek fisik, pemerintah memprioritaskan penanganan masalah kesehatan mental seperti isolasi sosial yang rentan memicu depresi pada populasi menua. Edukasi lintas generasi terus digalakkan demi mencegah insiden lansia meninggal tanpa diketahui oleh lingkungan sekitar.
"Selain itu, edukasi lintas generasi terus dilakukan untuk menumbuhkan kepedulian masyarakat terhadap lansia yang tinggal sendiri. Langkah ini diambil setelah ditemukan sejumlah kasus lansia meninggal dunia tanpa diketahui keluarga, maupun tetangga sekitar," paparnya.
Hingga kini, pemerintah telah mengoperasikan sebanyak 3.051 Sekolah Lansia di seluruh wilayah Indonesia. Fasilitas ini berfungsi sebagai instrumen strategis untuk mengoptimalkan potensi bonus demografi kedua.
"Sekolah Lansia ini juga memiliki pengajar yang sebagian besar dipilih oleh komunitas lansia yang ada, dengan menyesuaikan kebutuhan yang ada, misalnya kalau ada yang memiliki keahlian menganyam, ya bisa menjadi pengajar apabila sekolah lansianya membutuhkan. Ini mencegah mereka dari depresi," tutur Elsa.