WHO Laporkan Tiga Kematian Akibat Hantavirus di Kapal Pesiar Atlantik

WHO Laporkan Tiga Kematian Akibat Hantavirus di Kapal Pesiar Atlantik
Foto: Ilustrasi WHO Laporkan Tiga Kematian Akibat Hantavirus di Kapal Pesiar Atlantik.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan tiga orang meninggal dunia dan lima lainnya menjadi suspek akibat infeksi hantavirus di sebuah kapal pesiar di Samudra Atlantik pada Senin, 3 Mei 2026. Kasus yang melibatkan hewan pengerat sebagai reservoir alami ini memicu perhatian global terhadap risiko penyebaran penyakit langka tersebut, dilansir dari Popbela.

Hantavirus atau Orthohantavirus merupakan kelompok virus yang ditemukan pada tikus, mencit, celurut, dan tikus sawah yang dapat menular ke manusia melalui lingkungan terkontaminasi. Berdasarkan data global, terdapat puluhan spesies virus ini yang telah diidentifikasi oleh para ahli kesehatan.

Profesor Adam Taylor dari Universitas Lancaster menjelaskan klasifikasi jumlah spesies virus tersebut dalam laporannya kepada The Guardian.

"sekitar 38 spesies hantavirus yang telah diakui secara global." kata Adam Taylor, Profesor Universitas Lancaster.

Ia menambahkan bahwa dari total spesies yang ditemukan tersebut, sebagian besar memiliki potensi untuk menimbulkan gangguan kesehatan pada manusia. Penularan utamanya terjadi ketika manusia bersentuhan dengan habitat hewan pengerat yang membawa virus.

"Dari jumlah tersebut, sekitar 24 spesies diketahui dapat menyebabkan penyakit pada manusia." lanjut Adam Taylor.

Sementara itu, tantangan diagnosis muncul di wilayah tropis karena kemiripan gejala hantavirus dengan penyakit zoonosis lainnya. Hal ini diungkapkan oleh peneliti dari Universitas Queensland mengenai risiko kesalahan identifikasi medis.

"infeksi hantavirus pada manusia tergolong jarang. Di negara-negara tropis, kasusnya justru sering salah didiagnosis sebagai penyakit lain seperti leptospirosis yang juga ditularkan melalui hewan." tutur Yomani Sarathkumara, Peneliti Pascadoktoral Universitas Queensland.

Infeksi ini terbagi menjadi dua manifestasi klinis utama, yaitu Haemorrhagic Fever and Renal Syndrome (HFRS) dan Haemorrhagic Pulmonary Syndrome (HPS). HFRS ditandai dengan nyeri punggung, demam, hingga gangguan ginjal, sementara HPS menyerang fungsi paru-paru dan jantung yang sering kali berakibat fatal dalam waktu singkat.

Penularan ke manusia terjadi saat seseorang menghirup udara yang terkontaminasi urine, kotoran, atau air liur tikus yang terinfeksi. Risiko meningkat pada aktivitas di ruang tertutup dengan ventilasi buruk atau kontak langsung melalui gigitan hewan pengerat, meski kasus terakhir dilaporkan sangat jarang terjadi.

Langkah pencegahan utama mencakup penutupan akses masuk tikus ke dalam bangunan, penyimpanan makanan di wadah tertutup, dan menjaga kebersihan dapur secara rutin. Pasien yang terinfeksi memerlukan perawatan intensif, termasuk terapi oksigen, penggantian cairan, hingga dialisis jika terjadi kerusakan fungsi ginjal.

Artikel terkait

Rekomendasi