Anak ADHD di Jakarta Tunjukkan Kemampuan Akademik di Atas Rata-rata

Anak ADHD di Jakarta Tunjukkan Kemampuan Akademik di Atas Rata-rata
Foto: Ilustrasi Anak ADHD di Jakarta Tunjukkan Kemampuan Akademik di Atas Rata-rata.

Seorang anak laki-laki berusia 10 tahun penderita gangguan Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) di Jakarta Selatan, Azzikra Benzema Ibnusina, menunjukkan kemampuan akademik di atas rata-rata pada Minggu (12/4/2026). Meskipun sempat didiagnosis mengalami speech delay, anak yang akrab disapa Jema ini justru fasih berbahasa Inggris dan sudah bisa membaca sejak usia empat tahun.

Kecerdasan Jema terungkap melalui pengamatan ibunya, Debby Rosaliana Febriani, saat anaknya menjalani sesi terapi rutin. Dilansir dari Megapolitan, Jema secara spontan berteriak menggunakan bahasa Inggris saat meminta bantuan, padahal orang tuanya tidak pernah mengajarkan bahasa tersebut secara formal di rumah.

Selain kefasihan bahasa, Jema terbukti mampu mengirimkan pesan singkat melalui aplikasi WhatsApp kepada ayahnya saat masih berusia balita. Kemampuan membaca ini dikonfirmasi oleh guru di sekolah taman kanak-kanak setelah Jema dengan cepat menyusun balok huruf membentuk namanya sendiri dan membaca papan nama di jalanan.

Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Subspesialis Kedokteran Jiwa Anak dan Remaja RSPI Bintaro Jaya, Anggia Hapsari, menjelaskan bahwa tantangan utama anak ADHD bukanlah pada tingkat inteligensi, melainkan pada regulasi perhatian. Menurutnya, banyak anak dengan kondisi ini memiliki kecerdasan normal hingga di atas rata-rata jika mendapatkan pola asuh yang tepat.

"Orang tua perlu melihat anak dengan ADHD bukan sebagai anak yang 'nakal', tetapi sebagai anak yang membutuhkan strategi khusus untuk berkembang," kata Anggia Hapsari, Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Subspesialis Kedokteran Jiwa Anak dan Remaja RSPI Bintaro Jaya.

Anggia menekankan pentingnya pendekatan multidisiplin yang konsisten, termasuk pemberian instruksi yang singkat dan spesifik bagi anak. Ia juga memperingatkan orang tua agar tidak memberikan gawai sebagai penenang utama saat anak mengalami tantrum karena dapat menghambat perkembangan perilaku.

ADHD dinyatakan sebagai kondisi perkembangan saraf yang tidak dapat sembuh total, namun gejalanya dapat dikelola melalui terapi perilaku dan edukasi keluarga. Strategi adaptasi dan intervensi profesional memungkinkan individu dengan ADHD untuk tetap hidup produktif dan mencapai kesuksesan di masa depan.

Artikel terkait

Rekomendasi