Sistem Proteksi Kebakaran Apartemen Mediterania Dikeluhkan Penghuni

Sistem Proteksi Kebakaran Apartemen Mediterania Dikeluhkan Penghuni
Foto: Ilustrasi Sistem Proteksi Kebakaran Apartemen Mediterania Dikeluhkan Penghuni.

Sejumlah penghuni Tower C Apartemen Mediterania di Tanjung Duren, Jakarta Barat, mengeluhkan tidak berfungsinya alarm kebakaran dan sistem penyemprot air otomatis saat kepulan asap memenuhi gedung pada Kamis (30/4/2026). Insiden yang diduga berasal dari area basement ini memicu kepanikan warga yang harus melakukan evakuasi mandiri.

Kondisi darurat tersebut membuat jarak pandang di koridor unit hunian menjadi sangat terbatas akibat pekatnya asap. Dilansir dari Megapolitan, sistem peringatan dini gedung dinilai gagal memberikan instruksi evakuasi kepada para penghuni saat situasi genting terjadi.

Antonius, salah satu penghuni di lantai 28 Tower C, memberikan kesaksian mengenai kegagalan perangkat keselamatan tersebut di lokasi kejadian.

"Asapnya sangat hitam, seperti jarak pandang cuma berapa meter gitu lho. Alarm kebakaran tidak bekerja, maupun sprinkler tidak bekerja dengan efektif seperti simulasi yang sering dilakukan," ujar Antonius.

Pria berusia 47 tahun tersebut mengaku baru menyadari adanya bahaya setelah mendengar keramaian langkah kaki dan sirene dari luar unitnya sekitar pukul 08.00 WIB. Ia sempat tertahan di lorong tangga darurat yang sudah tertutup asap tebal sebelum memutuskan naik ke lantai atas.

"Saya bangunkan istri saya, begitu buka pintu unit koridor di lantai 28 itu sudah penuh dengan asap. Kebanyakan penghuni di sini saya kira tidak tahu bahwa sedang terjadi kebakaran. Kami hanya bisa evakuasi mandiri, tidak bisa dapat inisiatif dari pengelola," ujar dia.

Kendala lain muncul saat Antonius dan rombongan warga mencoba menuju area terbuka di atap gedung pada lantai 37. Akses pintu menuju rooftop tersebut ditemukan dalam kondisi terkunci rapat oleh pihak pengelola.

"Kami coba untuk naik ke rooftop ke lantai 36, ke lantai 37, tapi kebetulan sama pengelola terkunci. Jadi kami enggak bisa buka tanpa alat apa pun," keluhnya.

Dalam upaya mencari udara bersih, warga terpaksa menggedor pintu-pintu unit di lantai atas hingga akhirnya seorang penghuni di lantai 35 memberikan izin masuk. Antonius menegaskan kekecewaannya karena sistem proteksi tidak aktif meski asap sudah memasuki area hunian.

"Kami gedor-gedor semua pintu beberapa warga supaya bisa buka pintu. Nah kebetulan ada warga yang baik hati dari lantai 35 bersedia kami pakai (unitnya) untuk evakuasi di sana. Buka jendela, kami bisa masuk ke unit tersebut untuk ambil udara. Beberapa area sudah tidak bisa kami lakukan itu karena tidak steril (penuh asap)," ucap Antonius.

Ia berpendapat bahwa sistem keselamatan seharusnya sudah merespons sejak keberadaan asap terdeteksi karena dampaknya yang mematikan. Keluhan ini muncul karena adanya perbedaan performa sistem saat simulasi rutin dibandingkan dengan kejadian nyata.

"Masalahnya begini, kami ini untuk mati, untuk pingsan, untuk sakit, enggak perlu nunggu alarm nyala sampai panas kebakaran (api) datang dulu. Kami sudah kena asapnya, lantai 28 itu koridornya sudah full asap. Itu yang kami sesalkan," kata Antonius.

Pihak manajemen Apartemen Mediterania Garden Residence segera memberikan tanggapan terkait tudingan kegagalan sistem proteksi tersebut. Apartment Manager Mediterania Garden Residence, Anggi Febrianti, menegaskan bahwa perangkat keselamatan gedung telah bekerja sesuai dengan prosedur operasional.

"Sistem proteksi kebakaran gedungnya bekerja dengan sangat baik. Boleh dilihat bahwa sampai saat ini pun alarm masih bunyi. Saya juga memiliki video-video sprinkler yang pecah," tutur Anggi.

Anggi memberikan klarifikasi teknis mengenai mekanisme kerja sprinkler yang memang dirancang bereaksi terhadap suhu panas, bukan deteksi asap. Ia menjelaskan bahwa tim internal telah bergerak sejak sistem kontrol utama mendeteksi sinyal pada pukul 07.30 WIB.

"Sistem proteksi kebakaran itu sprinkler akan pecah pada saat di kondisi lantai yang memang terindikasi adanya panas dengan suhu tertentu. Kalau lantai lain yang tidak mengalami, panasnya tidak sampai di sana, itu tidak akan pecah. Seperti itu sistem kerjanya," kata Anggi.

Pihak pengelola menjamin keandalan sistem karena telah melalui proses sertifikasi dan pengujian rutin setiap tahun. Saat ini, manajemen memastikan seluruh perangkat tetap dalam pantauan tim teknis setelah insiden tersebut terjadi.

"Kami dapat jamin bahwa sistem proteksi kebakaran gedung kami itu sangat baik karena setiap tahunnya ada pengecekan dan sertifikasi serta uji coba," tuturnya.

Artikel terkait

Rekomendasi