Keluarga Kurang Mampu di Tanah Kuning Bertahan Hidup Konsumsi Singkong

Keluarga Kurang Mampu di Tanah Kuning Bertahan Hidup Konsumsi Singkong
Foto: Ilustrasi Keluarga Kurang Mampu di Tanah Kuning Bertahan Hidup Konsumsi Singkong.

Satu keluarga yang terdiri dari seorang ibu bernama Irma dan lima anaknya di Tanah Kuning, Tanjung Palas Timur, dilaporkan mengalami kemiskinan ekstrem hingga hanya mengonsumsi ubi kayu untuk bertahan hidup. Kondisi memprihatinkan ini terungkap melalui unggahan media sosial pada 23 April 2026.

Keluarga tersebut tinggal di sebuah bangunan dengan dinding kayu yang sudah melapuk di wilayah Rimba Kalimantan. Dilansir dari Suara, mereka tidak memiliki tempat tinggal tetap dan sering berpindah dari satu rumah kosong ke rumah kosong lainnya demi mendapatkan tempat berteduh.

Kondisi ekonomi yang sulit membuat Irma dan anak-anaknya hampir tidak pernah mengonsumsi nasi atau makanan bergizi lainnya. Kebutuhan pangan sehari-hari mereka bergantung sepenuhnya pada singkong rebus sebagai makanan pokok pengganti beras.

Kenyataan pahit ini ditemukan langsung oleh Suarni Rising, seorang perantau asal Bantaeng, saat mengunjungi kediaman keluarga tersebut. Suarni mengaku terkejut melihat situasi dapur Irma yang sangat sederhana dengan ketersediaan bahan makanan yang sangat minim.

"Saya lihat keadaannya mereka masuk di dapur hanya ada ubi kayu yang jadi makanan pokok mereka. Jadi saya bertanya, selama ini cara kalian hidup di sini gimana, cukup makan atau gimana?" kata Suarni Rising.

Dalam pertemuan tersebut, Irma mengungkapkan bahwa dirinya tidak mampu menyediakan makanan yang layak bagi kelima anaknya secara rutin. Ketersediaan makanan sangat bergantung pada belas kasihan orang lain yang bersedia memberikan bantuan pangan secara sukarela kepada mereka.

"Saya baru bisa menyantap makanan yang layak jika ada yang memberikannya," lirih Irma.

Kekurangan asupan nutrisi dalam jangka panjang berdampak buruk pada kesehatan anak-anak Irma, yakni Aco, Muhammad Rahmad, Nur Safirah, Nur Sahirah, dan Nur Azizah. Muhammad Rahmad atau Ahmad bahkan dilaporkan mengalami gangguan keterlambatan bicara atau speech delay akibat malnutrisi dan tekanan hidup yang dialami.

Situasi ini memicu sorotan publik mengenai jangkauan program bantuan pemerintah di wilayah pelosok. Beberapa pihak mempertanyakan efektivitas distribusi bantuan pangan yang belum menyentuh keluarga yang tinggal berpindah-pindah di kawasan hutan tersebut.

"Memprihatinkan sekali, sementara makanan MBG banyak yang tidak termakan," komentar netizen.

Artikel terkait

Rekomendasi