Dua Bayi Harimau Sumatra Lahir di Taman Satwa Lembah Hijau Lampung

Dua Bayi Harimau Sumatra Lahir di Taman Satwa Lembah Hijau Lampung
Foto: Ilustrasi Dua Bayi Harimau Sumatra Lahir di Taman Satwa Lembah Hijau Lampung.

Upaya pelestarian satwa langka di Indonesia membuahkan hasil positif dengan lahirnya dua ekor harimau sumatra (Panthera tigris sumatrae) di Taman Satwa Lembah Hijau, Lampung. Kelahiran ini menjadi angin segar bagi keberlangsungan spesies yang kini statusnya terancam punah di habitat aslinya.

Dilansir dari Detik Travel, bayi-bayi predator puncak tersebut merupakan keturunan dari pasangan harimau jantan bernama Kyai Batua dan betina bernama Sinta. Kedua induk ini memiliki latar belakang sebagai satwa hasil evakuasi akibat konflik dengan manusia serta jerat pemburu liar.

Kyai Batua sendiri diselamatkan oleh tim gabungan BKSDA Bengkulu-Lampung dan TNBBS pada Juli 2019 di Lampung Barat dalam kondisi kaki depan kanan yang terluka parah. Akibat luka jerat yang sangat serius, tim medis terpaksa melakukan tindakan amputasi pada 5 Juli 2019 demi menyelamatkan nyawanya.

Sementara itu, induk betina yang bernama Sinta dievakuasi dari Provinsi Bengkulu pada Desember 2024 dengan kondisi serupa. Sinta mengalami cacat permanen pada kaki belakang bagian kanan akibat terkena jerat kawat di hutan.

Proses perjodohan dan perkawinan kedua individu ini tidak dilakukan secara sembarang, melainkan berdasarkan rekomendasi teknis program Global Species Management Plan (GSMP). Program ini dikoordinasikan bersama Persatuan Kebun Binatang Seluruh Indonesia (PKBSI) untuk fase 2024/2025.

Dalam catatan resmi studbook harimau sumatra, Kyai Batua terdaftar dengan nomor identitas SB ID 1886. Sedangkan Sinta tercatat dengan nomor SB ID 1998, yang memastikan silsilah keturunan mereka terdokumentasi dengan baik dalam sistem konservasi global.

Memasuki usia tiga bulan, kedua anak harimau tersebut dilaporkan menunjukkan pertumbuhan yang sangat signifikan. Tim medik veteriner dari Taman Satwa Lembah Hijau terus melakukan pengawasan dan pendampingan ketat untuk memastikan kesehatan mereka tetap terjaga.

Sinergi Konservasi Ex Situ

Kepala BKSDA Bengkulu-Lampung, Agung Nugroho, menilai keberhasilan ini sebagai indikator keberhasilan pengelolaan konservasi luar habitat (ex situ). Menurutnya, kolaborasi antarpihak menjadi kunci utama dalam menjaga populasi spesies kunci ini.

"Kami memberikan apresiasi atas keberhasilan LK Taman Satwa Lembah Hijau dalam mendukung program konservasi harimau sumatra. Keberhasilan ini merupakan hasil kolaborasi yang solid antara pemerintah, lembaga konservasi, serta parapihak yang terlibat," kata Agung Nugroho dikutip dari rilis Kemenhut, Selasa (4/5/2026).

Agung berharap pencapaian ini dapat memperkuat komitmen publik dalam melindungi satwa liar. Terutama dalam menekan ancaman perburuan ilegal dan penggunaan jerat yang masih sering ditemukan di kawasan hutan.

Komisaris Utama PT Lembah Hijau menegaskan bahwa momen ini membuktikan satwa korban konflik tetap bisa produktif. Pengelolaan yang tepat sesuai prinsip kesejahteraan satwa memungkinkan mereka memberikan kontribusi nyata bagi populasi.

"Keberhasilan kelahiran ini menjadi bukti bahwa satwa hasil penyelamatan tetap memiliki potensi untuk berkembang biak secara optimal dalam pengelolaan yang tepat. Hal ini sekaligus menjadi kontribusi nyata dalam menjaga keberlanjutan populasi harimau sumatra," ujar pihak manajemen Lembah Hijau.

Kementerian Kehutanan menekankan bahwa kelahiran ini memiliki nilai strategis yang melampaui sekadar penambahan jumlah individu. Fasilitas konservasi seperti ini berperan penting dalam fungsi edukasi dan penelitian bagi masyarakat luas.

Ke depannya, BKSDA Bengkulu-Lampung bersama BBTNBBS dan PKBSI berkomitmen untuk terus meningkatkan penguatan program konservasi berbasis kolaborasi. Langkah ini mencakup perlindungan di dalam habitat asli (in situ) maupun pengelolaan di lembaga konservasi.

Artikel terkait

Rekomendasi