Kementerian Kehutanan mengonfirmasi kelahiran tiga ekor bayi harimau benggala (Panthera tigris tigris) di lembaga konservasi Taman Safari Indonesia II Prigen, Jawa Timur, pada awal Maret 2026 lalu. Dilansir dari Lestari, penambahan anggota baru ini menjadi capaian strategis dalam upaya pelestarian keanekaragaman hayati nasional.
Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kemenhut, Satyawan Pudyatmoko, menjelaskan bahwa proses reproduksi ini bertujuan menjaga stabilitas populasi satwa di Indonesia. Kelahiran tersebut terdiri dari dua anak harimau berwarna oranye pada 1 Maret 2026 dan satu anak harimau putih pada 3 Maret 2026.
"Keberhasilan reproduksi ini menunjukkan bahwa konservasi bukan hanya tentang menjaga jumlah populasi, tetapi juga memastikan kualitas genetiknya. Negara mendorong pengelolaan konservasi yang berbasis sains, kolaboratif, dan berkelanjutan," ungkap Satyawan dalam keterangan tertulis pada Sabtu (2/5/2026).
Ketiga bayi harimau tersebut lahir dari pasangan indukan bernama Anja dan Rinjani yang kini berada dalam pengawasan ketat. Satyawan menambahkan bahwa munculnya harimau benggala putih merupakan fenomena genetik yang memiliki nilai penting bagi kesehatan populasi satwa.
"Keberadaan harimau benggala putih, yang muncul dari gen resesif langka, menjadi indikator penting dalam pengelolaan populasi satwa yang sehat," sebut Satyawan.
Pemerintah menilai keragaman genetik berperan vital dalam menjaga ketahanan satwa terhadap perubahan lingkungan serta meminimalisir risiko gangguan kesehatan. Keberhasilan ini diklaim sebagai hasil sinergi antara pemerintah, tenaga profesional, dan dukungan masyarakat dalam pengelolaan konservasi ex-situ.
"Konservasi adalah tanggung jawab bersama. Keberhasilan seperti ini harus menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran publik bahwa setiap individu memiliki peran dalam menjaga satwa liar dan habitatnya," jelas Satyawan.
Tim medis dan perawat satwa memastikan bahwa kondisi indukan serta ketiga bayi harimau dalam keadaan sehat melalui pemantauan intensif. Kemenhut saat ini terus memperkuat standar pengelolaan lembaga konservasi untuk memastikan keberlanjutan program edukasi publik dan pengawasan genetik satwa dilindungi.