Pemerintah tengah mempertimbangkan untuk menetapkan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura-Kura Bali sebagai lokasi pengembangan International Financial Center (IFC). Rencana strategis ini bertujuan menciptakan pusat keuangan internasional yang mampu menarik modal dari investor global.
Dilansir dari Ekonomi, pusat keuangan tersebut nantinya akan dikelola oleh berbagai entitas profesional. Pengelolanya meliputi family office, manajer dana pensiun, hingga sovereign wealth fund (SWF) guna memperkuat basis modal di Indonesia.
Kesiapan kawasan ini telah ditinjau secara langsung oleh jajaran pejabat tinggi negara pada Jumat, 1 Mei 2026. Peninjauan tersebut melibatkan Menko Perekonomian Airlangga Hartarto serta Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani.
Turut hadir dalam rombongan tersebut Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria. Juru Bicara Kemenko Perekonomian, Haryo Limanseto, memberikan penjelasan terkait tujuan kunjungan kerja tersebut dalam siaran pers pada Minggu, 3 Mei 2026.
"Kunjungan tersebut juga bertujuan untuk menjajaki kesiapan pengembangan International Financial Center sebagai salah satu langkah strategis dalam memperkuat daya saing ekonomi nasional," ujar Haryo Limanseto.Proyek pembangunan IFC ini merupakan bagian dari arahan Presiden Prabowo Subianto. Airlangga Hartarto bertindak sebagai penanggung jawab proyek tersebut sekaligus menjabat sebagai Ketua Dewan Nasional KEK.
"Menko Airlangga juga menegaskan bahwa Pemerintah tengah mematangkan regulasi sebagai landasan pembentukan KEK Sektor Keuangan di Bali, yang dirancang untuk mengakomodasi berbagai kebutuhan pendirian pusat keuangan, mulai dari skema pengelolaan hingga fasilitas yang dapat menarik investor global," tutur Haryo.PT Bali Turtle Island Development (BTID) selaku pengelola kawasan memaparkan keunggulan Knowledge District. Area ini dirancang sebagai ekosistem inovasi yang mengintegrasikan modal pengetahuan serta sumber daya manusia untuk penggerak ekonomi baru.
Pengembangan kawasan ini akan terus berlanjut melalui penyelesaian sejumlah proyek strategis sepanjang tahun 2026. Hingga kuartal pertama tahun ini, KEK Kura-Kura Bali telah mencatatkan angka pertumbuhan yang signifikan.
Data investasi menunjukkan realisasi sebesar Rp1,62 triliun hingga akhir Maret 2026. Selain modal, kawasan ini juga telah berhasil menyerap tenaga kerja sebanyak 2.146 orang dalam periode yang sama.
Perkembangan Ekosistem Wisata Medis di KEK Sanur
Selain fokus pada sektor keuangan, rombongan pemerintah juga memantau pengembangan ekosistem health tourism di KEK Sanur. Kawasan ini diproyeksikan memperkuat posisi Indonesia sebagai destinasi layanan kesehatan skala dunia.
Fasilitas utama di wilayah ini adalah Bali International Hospital (BIH) yang telah beroperasi sejak April 2025. Rumah sakit ini menyediakan layanan spesialis yang menarik minat pasien dari berbagai negara.
Catatan kunjungan pasien hingga kuartal I/2026 mencapai 14.950 orang. Komposisi pasien terdiri dari 60 persen Warga Negara Asing (WNA) dan 40 persen Warga Negara Indonesia (WNI).
Fasilitas lain yang akan segera menyusul adalah The Solitaire Clinic yang dijadwalkan beroperasi pada 2026. Klinik ini akan menghadirkan layanan bedah kosmetik, estetika medis, transplantasi rambut, hingga terapi sel punca antiaging.
Secara kumulatif, KEK Sanur mencatat realisasi investasi yang sangat besar yakni mencapai Rp5,37 triliun hingga kuartal I/2026. Penyerapan tenaga kerja di kawasan ini telah menyentuh angka 5.444 orang dengan total kunjungan wisatawan sebanyak 279.804 orang.