Sebanyak 14 orang dilaporkan meninggal dunia setelah terjadi kecelakaan yang melibatkan KRL Commuter Line dan KA Argo Bromo Anggrek di perlintasan dekat Stasiun Bekasi Timur pada Senin, 27 April 2026. Insiden tragis ini diduga dipicu oleh sebuah unit taksi yang mengalami mati mesin di tengah rel kereta api.
Data korban jiwa tersebut dikonfirmasi oleh Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin, berdasarkan pemutakhiran data hingga Selasa pagi. Dilansir dari Detik Finance, seluruh jenazah korban telah dievakuasi ke RS Polri Kramat Jati untuk menjalani proses identifikasi oleh petugas medis.
Selain korban meninggal, tercatat sebanyak 84 orang lainnya mengalami luka-luka dan saat ini sedang menjalani perawatan intensif di sembilan rumah sakit berbeda di wilayah Bekasi dan sekitarnya. Fasilitas kesehatan tersebut meliputi RSUD Bekasi, RS Primaya, hingga RS Mitra Keluarga.
Pihak KAI juga telah mengamankan barang-barang milik penumpang yang tertinggal di lokasi kejadian untuk kemudian didata bersama pihak kepolisian. Bobby Rasyidin menjelaskan mengenai penanganan medis para korban dalam keterangan resminya.
"Sementara itu, 84 korban luka telah mendapatkan penanganan medis di berbagai fasilitas kesehatan. Penanganan korban dilakukan di sejumlah fasilitas kesehatan, antara lain RSUD Bekasi, RS Bella Bekasi, RS Primaya, RS Mitra Plumon Cibitung, RS Bakti Kartini, RS Siloam Bekasi Timur, RS Hermina, serta RS Mitra Keluarga Bekasi Timur dan Barat." kata Bobby Rasyidin, Direktur Utama KAI.
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi telah menginstruksikan langkah evaluasi menyeluruh terhadap operasional perusahaan taksi yang terlibat dalam insiden tersebut. Dudy meminta Direktorat Jenderal Perhubungan Darat segera memanggil pihak pengelola kendaraan tersebut untuk dimintai keterangan.
"Tadi saya sudah minta Dirjen Perhubungan Darat untuk bertemu dengan pengelola taksi hijau tersebut untuk melakukan evaluasi. Mudah-mudahan tadi kalo jadi hari ini mestinya," kata Dudy Purwagandhi, Menteri Perhubungan.
Pertemuan evaluasi tersebut dijadwalkan berlangsung di Stasiun Bekasi Timur untuk meninjau prosedur keselamatan armada. Sementara itu, manajemen Green SM Indonesia menyatakan telah memberikan keterangan kepada otoritas terkait guna mendukung investigasi penyebab pasti kecelakaan.
"Green SM Indonesia menaruh perhatian penuh pada terjadinya insiden di area perlintasan dekat Stasiun Bekasi Timur pada 27 April 2026, yang melibatkan satu kendaraan Green SM dan kereta yang melintas." tulis manajemen Green SM Indonesia.
Perusahaan menegaskan komitmennya untuk bersikap kooperatif selama proses hukum dan penyelidikan berlangsung. Langkah ini diambil untuk memastikan transparansi informasi bagi publik dan keluarga korban.
"Kami telah menyampaikan informasi yang relevan kepada pihak berwenang serta mendukung penuh proses investigasi yang sedang berlangsung." tulis manajemen Green SM Indonesia.
Selain dukungan investigasi, pihak pengelola taksi juga menyatakan akan terus memprioritaskan faktor keselamatan dalam layanan operasional mereka di masa depan. Peningkatan pengawasan internal menjadi fokus utama perusahaan pasca-insiden ini.
"Keselamatan tetap menjadi prioritas utama kami. Kami berkomitmen untuk menjaga standar keselamatan yang tinggi melalui sistem operasional, pengawasan, serta peningkatan layanan secara berkelanjutan." tulis manajemen Green SM Indonesia.
Pihak manajemen juga berjanji akan memberikan informasi tambahan secara berkala kepada masyarakat mengenai perkembangan kasus tersebut. Hal ini dilakukan segera setelah data-data di lapangan terverifikasi oleh tim penyelidik.
"Kami akan terus menyampaikan perkembangan terbaru seiring dengan tersedianya informasi yang telah terverifikasi." tulis manajemen Green SM Indonesia.