Gelombang kecaman dari berbagai negara melanda Pemerintah Israel menyusul beredarnya video penahanan yang merendahkan martabat para aktivis misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla di Perairan Mediterania menuju Gaza, dilansir dari Media Indonesia.
Aksi pencegatan kapal sipil internasional oleh pasukan laut Israel tersebut memicu reaksi diplomatik keras, termasuk pemanggilan duta besar Israel oleh sejumlah pemerintah negara asing.
Rekaman video yang diunggah oleh Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, memperlihatkan para relawan dipaksa berlutut dengan tangan terikat di belakang punggung, serta tindakan kekerasan fisik terhadap aktivis perempuan.
Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni menyampaikan keberatan resmi dan menilai tindakan tersebut telah mencederai nilai-nilai kemanusiaan karena banyak warga negaranya yang turut menjadi korban penahanan.
"Gambar-gambar Menteri Ben Gvir tidak bisa diterima. Tidak dapat diterima para demonstran ini, termasuk banyak warga Italia, diperlakukan dengan cara yang melanggar martabat kemanusiaan mereka," ucap Meloni.
Kecaman keras terhadap sikap menteri Israel tersebut juga disuarakan oleh pemerintah negara-negara Eropa dan Amerika Utara yang menuntut pertanggungjawaban serta pembebasan segera atas warga negara mereka.
"Ini persoalan yang kami anggap sangat serius. Ini menyangkut perlakuan manusiawi terhadap warga sipil dan saya memastikan kami bertindak dengan urgensi penuh," kata Anand, Menteri Luar Negeri Kanada Anita Anand.
Pemerintah Korea Selatan melalui pernyataan resminya turut mempertanyakan legalitas tindakan sepihak militer Israel di wilayah perairan internasional tersebut.
"Apakah itu wilayah Israel? Dengan alasan apa mereka bisa menangkap dan menahan kapal negara ketiga?" ujar Lee, Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung.
Sejumlah negara lain seperti Prancis, Belanda, Portugal, Spanyol, Irlandia, Amerika Serikat, hingga Britania Raya turut menyampaikan protes atas insiden yang menimpa kapal pembawa bantuan kemanusiaan ke Gaza tersebut.