JAKARTA, KOMPAS.com - Kebijakan Work From Home (WFH) bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) dinilai memberi efisiensi dan fleksibilitas kerja bagi institusi.
Namun di sisi lain, pola kerja tersebut turut menekan omzet pedagang kecil yang menggantungkan penghasilan dari aktivitas pekerja di kawasan perkantoran.
Penurunan jumlah pegawai yang datang ke kantor membuat aktivitas konsumsi harian di warung makan, kantin, hingga kios minuman ikut melambat.
Pengamat ekonomi sekaligus Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Rizal Taufikurahman mengatakan, kebijakan WFH memang membawa manfaat dari sisi efisiensi kerja, tetapi memiliki dampak ekonomi terhadap pelaku usaha kecil.
Menurut Rizal, sektor informal di kawasan perkantoran sangat bergantung pada mobilitas pekerja setiap hari.
ÔÇ£Pedagang kantin, warung makan, driver ojol, parkir, hingga UMKM informal sangat bergantung pada mobilitas harian pekerja kantor,ÔÇØ ujarnya melalui pesan WhatsApp, Senin (11/5/2026).
Ia menjelaskan, ketika tingkat kehadiran pegawai menurun, aktivitas konsumsi di kawasan tersebut ikut melemah.
Kondisi itu berdampak besar karena sektor informal masih mendominasi.
ÔÇ£Ketika tingkat kehadiran pegawai menurun, maka aktivitas konsumsi di kawasan tersebut ikut melambat. Padahal sektor informal masih mendominasi struktur tenaga kerja Indonesia, yakni sekitar 59 persen, sehingga dampaknya tidak bisa dianggap kecil,ÔÇØ kata Rizal.
WFH ASN Tekan Perputaran Ekonomi Harian UMKM
Rizal menilai penurunan jumlah pekerja di kawasan perkantoran turut memengaruhi ekonomi mikro perkotaan karena banyak usaha kecil bergantung pada transaksi harian.
Selain itu, konsumsi rumah tangga juga masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional.
ÔÇ£Artinya, penurunan traffic pekerja kantor meskipun terlihat sederhana tetap memiliki multiplier effect terhadap ekonomi mikro perkotaan,ÔÇØ ujarnya.
Menurut dia, usaha kecil di sekitar kantor umumnya memiliki margin keuntungan yang tipis sehingga perubahan pola kerja seperti hybrid dan WFH sangat memengaruhi omzet harian mereka.
ÔÇ£Ketika pola kerja hybrid atau WFH makin sering diterapkan, maka tekanan terhadap omzet usaha informal juga semakin terasa,ÔÇØ kata Rizal.
WFH Dinilai Perlu Diterapkan Lebih Proporsional
Karena itu, Rizal menilai penerapan WFH perlu dilakukan secara adaptif dengan mempertimbangkan dampaknya terhadap ekonomi masyarakat kecil di perkotaan.
ÔÇ£Jangan sampai efisiensi di level institusi justru menciptakan perlambatan ekonomi di level bawah, terutama bagi masyarakat informal perkotaan yang selama ini menjadi bantalan ekonomi domestik,ÔÇØ ujarnya.
Senada dengan itu, Pengamat Ekonomi Tauhid Ahmad mengatakan, dampak WFH paling terasa bagi pelaku usaha makanan di sekitar kawasan perkantoran.
Menurut Tauhid, kantin dan warung makan di area kantor menjadi pihak yang paling terdampak karena aktivitas makan siang pekerja biasanya terpusat di lokasi kerja.
ÔÇ£Tapi yang paling terasa tentu kantin-kantin di sekitar perkantoran, termasuk di area BUMN. Mereka yang paling terdampak dari kebijakan WFH ini,ÔÇØ ujarnya saat dihubungi, Senin.
Ia menilai penerapan WFH sebaiknya tidak terlalu sering karena mulai berdampak terhadap perputaran ekonomi di kawasan perkantoran.
ÔÇ£Selain itu, saya kira kalau WFH sampai dua kali seminggu itu terlalu banyak. Mungkin maksimal sekali seminggu masih wajar. Kalau dua kali, dampaknya mulai terasa,ÔÇØ kata Tauhid.
UMKM Bergantung pada Pegawai Kantoran
Dampak dari kebijakan WFH tersebut turut dirasakan oleh para pedagang makanan di kawasan Jalan Kebon Sirih Barat II, Jakarta Pusat.
Mereka mengaku mulai merasakan penurunan omzet sejak kebijakan Work From Home (WFH) diberlakukan bagi ASN.
Salah satunya Hani, pedagang nasi dan masakan rumahan yang mengaku pendapatannya terus menurun dalam lebih dari sebulan terakhir.
ÔÇ£Ngaruh banget sudah 85 persen, jujur ini ada kali sebulan setengah. Ya, fokusnya sebulan ini aja sudah berasa bener,ÔÇØ ujarnya saat ditemui Kompas.com, Senin (11/5/2026).
Hani mengatakan, pemasukan hariannya kini turun hingga sekitar 70 sampai 80 persen dibanding kondisi normal.
Pendapatan yang tersisa, menurut dia, hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Ia melihat perubahan suasana kawasan sangat terasa ketika banyak pegawai bekerja dari rumah.
Jika sebelumnya area tersebut ramai sejak pagi hingga sore oleh lalu lalang pekerja kantoran, kini kondisinya jauh lebih lengang, terutama setiap Jumat.
Bahkan, Hani merasa dampak kondisi saat ini lebih berat dibanding masa pandemi Covid-19.
ÔÇ£Sedih-sedihnya mending COVID masih bisa deh kita tersenyum. Karena waktu COVID kan ganjil-genap, tuh. Kalau ini berasa banget,ÔÇØ ucapnya.
Jumlah Masakan dan Menu Mulai Dikurangi
Turunnya jumlah pelanggan membuat Hani harus menyesuaikan jumlah masakan setiap hari agar tidak terlalu banyak sisa makanan.
Ia menuturkan, sebelumnya dagangannya bisa menghabiskan hingga tiga termos nasi dalam sehari. Namun kini, dua termos saja sering kali belum habis sampai malam.
ÔÇ£Ini, deh, hitung termos aja, biasanya hari biasa sampai tiga (termos habis) Ini dua aja, haduh ditungguin sampai Maghrib atau sampai Isya hampir 20 literan bedanya,ÔÇØ katanya.
Tak hanya nasi, jumlah lauk dan menu yang disiapkan juga mulai dikurangi untuk menekan produksi akibat makanan yang tidak habis terjual.
ÔÇ£Tutup mah enggak (Jumat), tapi dikurangin aja, menu-menunya juga dikurangin, enggak masak banyak,ÔÇØ ujarnya.
Ia menyebut hari Jumat sebelumnya menjadi salah satu waktu paling ramai karena banyak pegawai datang untuk sarapan, makan siang, hingga makan sore seusai shalat Jumat.
ÔÇ£Nah Jumat kan biasa ramai kan olahraga orang Pemda olahraga senam tuh turun pada sarapan, siangnya habis shalat Jumat pada makan siang kalau sore pada yang belum makan siang makan. Kalau sekarang ya gini paling hitungan jari (pelanggan),ÔÇØ katanya.
Hani juga mengatakan, kondisi pekan ini terasa semakin berat karena adanya libur panjang yang membuat aktivitas perkantoran semakin berkurang.
ÔÇ£Apalagi Minggu ini Kamis tanggal Merah jadi tiga hari doang kita coba Minggu ini luar biasa,ÔÇØ kata Hani.
Terpaksa Pangkas Produksi Harian
Kondisi serupa juga dirasakan Lusi (59), pedagang makanan di kawasan yang sama.
Ia mengatakan, kebijakan WFH membuat suasana kawasan jauh lebih sepi dibanding hari kerja biasa yang biasanya dipenuhi antrean pegawai kantoran.
ÔÇ£Ngaruh, ngaruh banget, sepi semuanya. Kalau Jumat, kan ASN Lemhanas sama DKI. Kalau hari Rabu swasta dua kali dalam seminggu,ÔÇØ ujarnya saat ditemui Kompas.com, Senin.
Meski tetap berjualan setiap hari, jumlah pembeli disebut turun drastis ketika pegawai kantor bekerja dari rumah.
Hal itu membuat Lusi ikut mengurangi jumlah lauk yang dimasak setiap hari.
Jika sebelumnya ia biasa menyiapkan sekitar 60 potong ayam, kini hanya memasak sekitar 40 potong.
ÔÇ£Iya, ngurangin. Biasanya 60 (potong ayam) sekarang cuma 40. Itu juga enggak habis kalau hari Jum'at,ÔÇØ ucapnya.
Omzet Pedagang Turun Hampir Separuh
Lusi mengatakan, ketergantungan terhadap pembeli dari kalangan pegawai kantor membuat omzet pedagang langsung terdampak ketika aktivitas perkantoran menurun.
Ia mengaku pendapatan hariannya yang biasanya mencapai sekitar Rp 1,5 juta kini turun menjadi sekitar Rp 800.000.
Terlebih perubahan pola konsumsi pegawai juga ikut memengaruhi penjualan.
Saat awal bulan, banyak pekerja memilih memesan makanan secara online dibanding makan langsung di warung sekitar kantor.
ÔÇ£Apalagi tanggal muda, tanggal muda kan orang makannya pakai online, kalau tanggal tua baru makan (di sini),ÔÇØ ujarnya.
Pedagang pecel lele dan ayam di kawasan Kuliner Kebun Sirih, David, juga merasakan dampak kebijakan WFH yang diterapkan di sejumlah perkantoran sekitar area tersebut.
Berkurangnya pekerja kantoran yang datang untuk makan siang membuat jumlah pembeli menurun dibanding hari kerja normal.
ÔÇ£Kalau dari jualan sih ngaruh juga ya karena hari biasa itu ramai sekarang kan karyawan kantoran banyak yang itu ya (WFH) jadinya kurang,ÔÇØ ujarnya saat ditemui di kiosnya, Senin.
David menuturkan penurunan pembeli membuat omzet hariannya berkurang hingga sekitar Rp 300.000 dibanding biasanya.
Kondisi itu membuat dirinya mulai menyesuaikan jumlah bahan dagangan agar tidak terlalu banyak tersisa.
ÔÇ£Jadi sekarang nih paling dikurangin dari stok nya kayak misal ayam biasanya bawa 10 ekor sekarang turun setengahnya (lima ekor) jadi jauh selisihnya,ÔÇØ katanya.
Kawasan UMKM Mendadak Lengang Saat WFH ASN
Jalan Kebon Sirih Barat II, Jakarta Pusat, yang sehari-hari ramai oleh lalu lalang pekerja kantoran karena dihuni para pedagang mendadak terasa lebih sepi saat kebijakan WFH ASN diterapkan setiap Jumat.
Saat Kompas.com mendatangi lokasi pada Kamis menjelang jam makan siang sekitar pukul 11.50 WIB, gang sempit di kawasan tersebut dipenuhi lalu-lalang pekerja dengan pakaian kantor dan seragam dinas.
Para pembeli silih berganti mendatangi kios makanan untuk memesan makan siang.
ÔÇ£Bu, pahanya satu, makan di sini,ÔÇØ kata seorang pegawai sambil mencari tempat duduk kosong.
Di kios lain, percakapan serupa terdengar di tengah antrean pembeli.
ÔÇ£Nilanya masih ada, mas?ÔÇØ tanyanya sambil melihat deretan lauk di etalase kaca.
ÔÇ£Iya, sambalnya dipisah ya," sahutnya kembali.
Interaksi singkat antara pedagang dan pelanggan terdengar hampir di sepanjang area kuliner.
Para pedagang tampak sibuk melayani pesanan makan di tempat maupun bungkus yang terus berdatangan.
Salah satu warung yang paling ramai saat itu adalah warung Nasi Goreng, Mie Goreng, dan Kwetiau Pak Hadi.
Suara penggorengan yang nyaring berpadu dengan aroma bumbu nasi goreng yang menyebar di sepanjang gang menjadi daya tarik tersendiri bagi pekerja kantoran.
Seorang petugas berseragam ÔÇ£Lemhannas RIÔÇØ tampak ikut mengantre bersama pegawai lainnya yang mengenakan batik dan pakaian dinas.
Namun suasana berbeda terlihat ketika Kompas.com kembali datang pada Jumat di jam yang sama.
Kawasan yang sehari sebelumnya penuh mendadak terasa lebih lengang dan tenang.
Antrean pembeli yang biasanya memenuhi sebagian badan jalan tak lagi terlihat.
Beberapa pedagang terlihat duduk santai sambil berbincang dengan sesama pedagang atau merapikan dagangan mereka.
Kios minuman seperti Teh Manis Solo pun tampak sepi pengunjung, meski deretan jeruk peras masih tersusun rapi di etalase.