Sebanyak 444 calon jemaah haji Kloter 10 asal Kota Bogor diberangkatkan dari Masjid Raya Bogor menuju Embarkasi Haji Bekasi pada Sabtu (2/5/2026). Keberangkatan ini diwarnai kisah haru dari para jemaah yang telah mengantre selama belasan tahun untuk menunaikan ibadah ke Tanah Suci, sebagaimana dilansir dari Megapolitan.
Salah satu jemaah yang berangkat adalah Abdul Muhis Salam (64), warga Gunung Batu yang mendapat bantuan biaya dari kelompok pengajiannya. Ia mengaku mengalami pergolakan emosi saat akhirnya mendapat kepastian keberangkatan setelah menanti selama 12 tahun.
"Kalau saya ada yang ongkosin, dari grup pengajian. Campur aduk, sedih, gembira, macam-macam," kata Abdul Muhis Salam di Masjid Raya Bogor, Sabtu (2/5/2026).
Pria lanjut usia tersebut mengungkapkan bahwa persiapan fisik menjadi fokus utamanya selama masa penantian agar tetap sehat saat menjalankan ibadah. Abdul secara rutin melakukan olahraga dan menjaga pola makan demi menjaga kondisi tubuh.
"Paling kita doa aja, 12 tahun nunggunya. Insya Allah dua tahun sebelumnya saya sudah berusaha cukup tidur, olahraga, angkat beban, makan, jangan stres," ujarnya.
Abdul juga memberikan imbauan bagi masyarakat yang memiliki kemampuan secara ekonomi untuk segera mendaftarkan diri. Menurutnya, kesempatan berangkat haji merupakan panggilan yang tidak boleh ditunda jika syarat finansial sudah terpenuhi.
"Pesan saya sama orang yang punya uang cepat-cepat berangkat tahun berapa terserah, tawakal aja kepada Allah karena bisa jadi ada orang yang cukup uang tapi enggak berangkat. Rukun Islam yang kelima itu," jelas Abdul Muhis Salam.
Kisah serupa dialami oleh Agus Prayoga (55), calon jemaah lain yang berhasil mengumpulkan biaya perjalanan melalui tabungan pribadi selama lebih dari satu dekade. Keberangkatannya tahun ini terasa spesial karena dilakukan bersama sang istri setelah mendapat bantuan tambahan dari pihak keluarga.
"Enggak punya uang, uang seada-adanya dibantu keluarga itu segera dapatkan porsi haji. Nabung 12 tahun," kata Agus Prayoga di Masjid Raya Bogor.
Agus menyatakan rasa tidak percayanya bisa terpilih menjadi salah satu tamu Allah pada tahun ini. Harapannya, perjalanan ibadah bersama pasangannya tersebut dapat berjalan lancar hingga meraih predikat haji yang mabrur.
"Speechless, mudah-mudahan sih bisa dapatkan haji yang mabrur bareng istri juga," ujarnya.
Dalam pandangannya, niat untuk melaksanakan ibadah haji harus diletakkan di atas kepentingan materi lainnya seperti aset pribadi. Ia meyakini bahwa mendahulukan kewajiban agama akan membawa kemudahan bagi urusan duniawi lainnya.
"Jadi dahulukan untuk Allah, rumah segala macam pasti ngikut. Tapi kalau kita dahulukan rumah, mobil, dan sebagainya, itu dapet tapi yang tadi diwajibkan yang haji terlewatkan jangan sampai menyesal," katanya.
Sebagai langkah antisipasi masa tunggu yang panjang, Agus menyarankan rekan sejawatnya untuk mempersiapkan dana haji bagi anak-anak sedini mungkin. Hal ini dimaksudkan agar generasi berikutnya memiliki waktu tunggu yang lebih ideal.
"Kalau yang umur-umur saya, teman-teman seumuran, itu anaknya segera dibuat tabungan haji," jelas Agus Prayoga.
Keberangkatan kloter ini juga didampingi oleh enam orang petugas haji untuk memastikan kelancaran administrasi dan kesehatan jemaah selama di perjalanan menuju embarkasi.