Suasana Senin malam di Kampung Pasar Jiung, Kemayoran, mendadak berubah dari keramaian warga menjadi situasi yang sangat mencekam.
Tepat pada pukul 20.55 WIB, kobaran api muncul dan dengan cepat merambat ke pemukiman padat penduduk yang didominasi material kayu.
Supriatin, Sekretaris RT setempat, menjadi salah satu saksi sekaligus korban dalam musibah yang melahap bangunan dan harta benda warga tersebut.
Saat api mulai berkobar, Supriatin yang tengah berada di tempat usahanya langsung bergegas pulang dengan perasaan yang sangat cemas.
Setibanya di lokasi, ia mendapati rumahnya telah dikuasai api yang merah membara hingga suhunya terasa sangat menyengat kulit.
Meski sempat histeris dan berniat menerjang api demi menyelamatkan barang berharga, petugas segera mengevakuasinya karena situasi sudah terlalu berbahaya.
Evakuasi Menegangkan di Tengah Kepungan Asap
Kekhawatiran Supriatin bukan hanya soal harta benda, melainkan kondisi istrinya yang saat itu sedang terbaring sakit di dalam rumah.
Istri Supriatin yang menderita pengapuran sempat mengalami sesak napas yang cukup parah akibat kepulan asap hitam yang masuk ke dalam hunian mereka.
Kondisi di lapangan semakin kacau saat warga lainnya berlarian menyelamatkan diri melalui gang-gang sempit yang sudah mulai terkepung api.
Dalam keadaan penuh keputusasaan, Supriatin mengaku hanya bisa menangis dan menyerahkan segala nasibnya kepada Yang Maha Kuasa.
Fakta penting mengenai proses pemadaman dan penanganan korban :
- Petugas pemadam kebakaran mengerahkan total 33 unit armada ke lokasi kejadian.
- Evakuasi korban dilakukan melalui gang sempit dengan pengawasan ketat petugas.
- Pihak berwenang menyiapkan Lapangan Jusuf Hamka sebagai lokasi penampungan sementara.
- Kondisi istri Supriatin dipastikan selamat setelah mendapatkan bantuan dari tim penyelamat.
Daftar di atas merangkum tindakan cepat yang diambil oleh pihak berwenang guna meminimalisir jatuhnya korban jiwa di lokasi kebakaran.
Beruntung, di tengah puing-puing rumah yang hangus, Supriatin mendapat kabar bahwa istrinya berhasil diselamatkan oleh petugas pemadam kebakaran.
Rasa syukur mendalam menyelimuti dirinya karena meski kehilangan tempat tinggal, nyawa orang terkasih masih bisa terselamatkan dari tragedi tersebut.
Kini, para warga terdampak hanya bisa menunggu kepastian mengenai nasib masa depan mereka di balik reruntuhan bangunan yang telah menghitam.