Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Seoul melakukan pertemuan strategis dengan agensi SM Entertainment untuk membahas ekspansi kolaborasi industri kreatif antara Indonesia dan Korea Selatan pada Kamis, 23 April 2026. Pertemuan ini berlangsung di Wisma Duta dengan kehadiran pejabat tinggi kedua belah pihak.
Duta Besar RI di Seoul, Cecep Herawan, memimpin pembicaraan tersebut bersama DCM KBRI Seoul Ali Andika Wardhana. Sementara itu, pihak SM Entertainment diwakili langsung oleh CEO Daniel Jang dan CGO Mina Choi sebagaimana dilansir dari Nasional.
"Untuk membahas peluang kolaborasi yang semakin luas di industri kreatif IndonesiaÔÇôKorea," tulis akun resmi KBRI RI di Seoul dalam akun Instagram @indonesiainseoul, dikutip Sabtu (25/4/2026).
Langkah diplomasi ekonomi ini merupakan implementasi nyata dari instruksi Presiden RI Prabowo Subianto. Pemerintah menargetkan penguatan ekosistem hiburan nasional melalui kemitraan dengan pemain global seperti SM Entertainment yang menaungi grup Hearts2Hearts, EXO, dan Super Junior.
"Termasuk kolaborasi K-Pop di Indonesia, membuka peluang baru bagi para penggiat industri hiburan nasional," tulisnya.
Dubes Cecep Herawan memproyeksikan berbagai skema kemitraan yang dapat menyentuh sektor hulu hingga hilir dunia hiburan. Fokus utama mencakup penanaman modal dan pertukaran talenta kreatif antarnegara.
"Mulai dari investasi di sektor entertainment, talent scouting, pelatihan K-Pop, creative exchange, hingga kolaborasi merchandise," ucap Dubes Cecep.
Selain pengembangan talenta, KBRI Seoul mendorong agensi besar tersebut untuk memperluas jangkauan produksinya ke wilayah domestik Indonesia. Hal ini diharapkan dapat memicu efek domino bagi pertumbuhan ekonomi kreatif lokal.
"SM Entertainment juga didorong untuk menjajaki produksi film, video klip, dan beragam konten hiburan lainnya di Indonesia," sambung Dubes Cecep.
Pemerintah berharap Indonesia dapat bertransformasi menjadi pusat aktivitas industri musik Korea di kawasan regional. Kerja sama ini ditujukan untuk membangun infrastruktur pasar yang mampu bersaing secara global.
"Sekaligus mendorong pertumbuhan ekosistem kreatif yang lebih luas, mulai dari produksi, distribusi, hingga pasar dan audiens global," tulisnya.