Penyakit radang usus kronis atau inflammatory bowel disease (IBD) tengah mengalami tren kenaikan kasus di masyarakat. Keluhan pencernaan ini perlu diwaspadai karena gejalanya yang samar sering membuat kondisi tersebut terlambat dideteksi.
Dilansir dari Detik Health, lonjakan kasus IBD ini utamanya menyerang kelompok masyarakat dalam usia produktif. Rentang usia yang paling banyak terdampak berada di angka 15 hingga 30 tahun.
Berdasarkan data riset Asia-Pacific Crohn's and Colitis Epidemiologic Study, angka kejadian kasus IBD di Indonesia mencapai 0,77 per 100 ribu penduduk. Namun, jumlah riil di lapangan berpotensi lebih besar karena banyak pasien baru memeriksakan diri saat penyakit sudah memasuki fase lanjut.
"Kasusnya semakin tinggi di masyarakat, kemudian dampaknya juga mengganggu kualitas hidup, kenapa? Karena pasien-pasien ini akan bermasalah, diare berulang, buang air besar berdarah, berat badan turun, dan kalau ini tidak ditangani dengan baik, berisiko tinggi termasuk ke kanker usus besar," kata Prof Ari Fahrial Syam selaku Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam Konsultan gastroenterologi-hepatologi FK UI, RSCM.
"Kita tahu bahwa kanker usus besar sekarang meningkat di tengah masyarakat, salah satunya karena perjalanan dari IBD," ujar Prof Ari Fahrial Syam.
Potensi Komplikasi dan Gejala yang Harus Diwaspadai
Merujuk pada literatur klinis gastroenterologi yang disusun oleh Prof Dr dr Marcellus Simadibrata, Sp.PD-KGEH bersama tim perhimpunan ahli pencernaan, terdapat sekitar 10 persen kasus diare non-infeksi yang dipicu oleh IBD.
"Memang angkanya masih sekitar 10 persen, tetapi yang ini harus dilihat kalau tidak diobati dengan baik, dia juga menjadi pasien peradangan maka potensi untuk menjadi cancer menjadi lebih cepat," kata Prof Ari Fahrial Syam.
Masyarakat diimbau untuk mengenali indikasi klinis dari penyakit ini. Gejala utama yang patut dicurigai adalah gangguan diare yang terjadi berulang kali selama lebih dari dua minggu secara berturut-turut.
Kondisi diare kronis tersebut biasanya diikuti dengan penurunan berat badan secara drastis serta adanya bercak darah saat buang air besar.
Selain faktor penanganan medis, pola makan juga memegang peranan penting dalam memicu kekambuhan peradangan usus ini. Beberapa jenis hidangan lokal yang kaya lemak dinilai dapat merangsang sensitivitas saluran pencernaan pasien.
"Makanan berlemak, keju, coklat, makanan ultra processed food juga bisa memicu," kata Prof Ari Fahrial Syam.