Lonjakan kasus hipertensi di Indonesia menunjukkan tren peningkatan yang signifikan dalam lebih dari satu dekade terakhir. Kondisi tersebut mendorong Kementerian Kesehatan RI untuk memperkuat program deteksi dini guna menekan risiko komplikasi serius pada masyarakat.
Penyakit ini dilaporkan menjadi salah satu beban kesehatan tertinggi di Indonesia berdasarkan data International Health Metrics. Fakta tersebut dikutip dari Medcom melalui penjelasan Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kementerian Kesehatan RI, dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid.
ÔÇ£Dari tahun 2009 sampai 2023, tren hipertensi terus meningkat. Tahun 2009 angkanya sekitar 18 persen, sekarang sudah mencapai sekitar 30 persen. Artinya, sekitar 50 hingga 60 juta penduduk Indonesia menderita tekanan darah tinggi," kata Nadia dalam kampanye nasional Controlling Hypertension Together di Jakarta.
Prevalensi tekanan darah tinggi di Tanah Air saat ini telah menyentuh angka 31 persen berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia terbaru. Lonjakan ini memicu peningkatan penyakit tidak menular lainnya seperti stroke, gagal ginjal, hingga gangguan jantung yang ikut meningkatkan beban pembiayaan kesehatan nasional.
Pemerintah menanggulangi masalah ini dengan meluncurkan program Cek Kesehatan Gratis atau CKG sejak 10 Februari 2025. Program tersebut menyediakan 18 jenis pemeriksaan kesehatan untuk mendeteksi dini penyakit tidak menular termasuk hipertensi dan diabetes melitus.
Hipertensi kerap disebut sebagai silent killer karena banyak penderita tidak merasakan gejala awal hingga kondisinya memburuk. Program CKG tahun lalu berhasil menjangkau sekitar 70 juta masyarakat dan menemukan 15 juta orang di antaranya mengalami tekanan darah tinggi.
Pemerintah juga menyoroti temuan baru mengenai kemunculan penyakit ini pada kelompok usia muda.
ÔÇ£Kami juga menemukan peningkatan tekanan darah pada anak usia SMA. Ini masih kami evaluasi penyebabnya,ÔÇØ ungkapnya.
Rendahnya kesadaran masyarakat menjadi tantangan besar bagi Kementerian Kesehatan dalam mengendalikan penyakit ini. Banyak warga enggan memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan karena takut mengetahui kondisi kesehatan mereka sendiri.
ÔÇ£Banyak masyarakat tidak mau datang cek kesehatan karena berpikir daripada ketahuan darah tinggi, lebih baik tidak tahu,ÔÇØ kata Nadia.
Ketua Perhimpunan Dokter Hipertensi Indonesia (InaSH), dr. Eka Harmeiwaty, Sp.N., menambahkan bahwa penanganan penyakit ini memerlukan keterlibatan lintas sektor secara masif dan tidak bisa dibebankan hanya kepada dokter atau rumah sakit.
ÔÇ£Bukan lagi hanya prevensi primer atau prevensi sekunder, tapi sudah ke prevensi primordial. Kami menyadari hipertensi tidak bisa diselesaikan hanya di ruang dokter. Banyak faktor di luar sana yang memengaruhi,ÔÇØ ujarnya.
Managing Director Beurer Indonesia, Aria Verdin, menyatakan bahwa Hari Hipertensi Sedunia harus menjadi momentum penting untuk meningkatkan kebiasaan melakukan pengecekan tekanan darah secara berkala.
ÔÇ£Banyak orang tidak menyadari dirinya mengalami hipertensi hingga akhirnya muncul komplikasi serius. Jadi jangan tunggu sampai ada keluhan. Cara paling pasti untuk mengetahui kondisi tubuh adalah dengan cek rutin,ÔÇØ katanya.