Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengonfirmasi temuan lima kasus Hantavirus di kapal pesiar MV Hondius yang mengakibatkan tiga orang meninggal dunia pada Senin (11/5/2026). Satu kasus telah dinyatakan positif sementara lima lainnya dalam proses penyelidikan intensif guna mencegah penyebaran lebih luas di lingkungan maritim tersebut.
Dilansir dari Lifestyle, Hantavirus Pulmonary Syndrome diidentifikasi sebagai penyakit zoonosis yang bersumber dari hewan pengerat. Ahli epidemiologi Griffith University, Dicky Budiman, menjelaskan bahwa virus ini memiliki reservoir utama pada tikus liar dan pertama kali ditemukan di Korea Selatan pada tahun 1976 silam.
"Reservoir utama dari hantavirus itu adalah hewan pengerat seperti tikus liar. Kalau di Indonesia juga ditemukan pada tikus kota atau tikus rumah di beberapa lokasi, terutama yang sangat rawan di daerah pelabuhan," ujar Dicky Budiman, Epidemiolog dari Griffith University.
Penularan ke manusia biasanya terjadi melalui aerosol dari urin, feses, atau air liur tikus yang mengering dan terbawa udara. Meskipun jarang, infeksi dapat terjadi lewat gigitan hewan pengerat atau sentuhan pada permukaan yang terkontaminasi virus tersebut.
Dicky Budiman menambahkan bahwa penyakit ini menyerang pembuluh darah dan dapat memicu gagal napas akut yang menyerupai Acute Respiratory Distress Syndrome. Tingkat kematian pada kasus berat bahkan dapat menyentuh angka 40 persen apabila fasilitas medis ICU terbatas atau terjadi keterlambatan diagnosis.
Pihak WHO menegaskan bahwa karakteristik penyebaran Hantavirus berbeda dengan virus corona karena memerlukan kontak yang sangat dekat. Investigasi saat ini diarahkan pada pelacakan kontak penumpang yang turun, termasuk seorang wanita yang meninggal dunia di Afrika Selatan setelah turun dari kapal pesiar tersebut.
"I ingin menegaskan hal ini dengan jelas. Ini bukan SARS-CoV-2. Ini bukan awal dari pandemi Covid. Ini adalah wabah yang kita lihat di kapal," kata Maria Van Kerkhove, Ahli Epidemiologi Penyakit Menular WHO.
Pernyataan tersebut didukung oleh otoritas Uni Eropa yang menilai risiko penyebaran bagi masyarakat umum masih berada pada level rendah. Meskipun penyelidikan mengenai penularan antarmanusia sedang berlangsung, bukti saat ini menunjukkan bahwa fenomena tersebut sangat jarang terjadi.
"I harus mengulangi bahwa menurut bukti yang kami miliki saat ini, risiko bagi masyarakat di Eropa, risiko bagi warga Eropa, rendah," ujar Eva Hrcirova, Juru Bicara Uni Eropa.
Para ahli kesehatan menekankan bahwa Hantavirus jauh lebih sulit menular dibandingkan Covid-19. Dr. Emily Abdoler dari Michigan Medicine menyatakan bahwa sejarah penyebaran virus ini tidak pernah menunjukkan potensi untuk menjadi wabah besar dalam skala global.