Kemenkes Catat Puluhan Ribu Kasus Suspek Campak di Indonesia

Kemenkes Catat Puluhan Ribu Kasus Suspek Campak di Indonesia
Foto: Ilustrasi Kemenkes Catat Puluhan Ribu Kasus Suspek Campak di Indonesia.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia melaporkan lonjakan kasus campak dengan total 63.769 kasus suspek sepanjang tahun 2025 yang mengakibatkan 69 kematian di berbagai wilayah Indonesia. Tren penyebaran penyakit akibat infeksi virus ini terus berlanjut hingga memasuki minggu ketujuh tahun 2026 dengan temuan ribuan kasus tambahan.

Data resmi menunjukkan bahwa dari puluhan ribu suspek pada 2025, sebanyak 11.094 kasus telah terkonfirmasi melalui uji laboratorium dengan Case Fatality Rate (CFR) sebesar 0,1 persen. Kondisi ini menempatkan campak sebagai perhatian serius bagi otoritas kesehatan nasional, sebagaimana dilansir dari Detik iNET.

Memasuki periode Januari hingga pertengahan Februari 2026, tercatat 8.224 kasus suspek baru dengan 572 kasus terkonfirmasi dan 4 orang meninggal dunia. Pada kurun waktu singkat tersebut, muncul 21 kejadian luar biasa (KLB) suspek dan 13 KLB terkonfirmasi yang melanda 17 kabupaten/kota di 11 provinsi.

Kepala Pusat Riset Kedokteran Preklinis dan Klinis Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Harimat Hendarwan, memaparkan karakteristik biologis penyebab penyakit ini. Beliau menegaskan bahwa agen penyebabnya adalah virus measles yang memiliki sifat inang yang sangat spesifik.

"Sejauh ini, manusia adalah satu-satunya inang alami," ungkap Harimat dalam keterangannya dikutip Minggu (3/5/2026).

Harimat menjelaskan bahwa virus ini merupakan jenis RNA beruntai tunggal yang berasal dari famili Paramyxoviridae. Penyakit ini memiliki daya tular yang sangat tinggi dan tidak memandang batasan usia bagi para korbannya di masyarakat.

"Begitu menularnya sehingga digambarkan seseorang yang tidak pernah diimunisasi dapat terinfeksi hanya dengan memasuki ruangan tempat seseorang yang terinfeksi baru saja berada," tambahnya.

Mekanisme penularan utama terjadi lewat percikan droplet dari saluran pernapasan saat penderita batuk atau bersin. Virus ini memiliki ketahanan hidup yang cukup kuat karena mampu bertahan di permukaan benda atau udara terbuka selama kurang lebih dua jam.

Risiko penularan bagi individu yang belum mendapatkan vaksinasi mencapai 90 persen jika terpapar langsung. Satu pasien positif campak secara statistik berpotensi memicu munculnya hingga 18 infeksi sekunder pada orang di sekitarnya.

"Penularan dari orang yang terpapar tanpa gejala belum terbukti," kata Harimat.

Gejala klinis biasanya muncul setelah masa inkubasi selama 10 hingga 14 hari, yang diawali dengan demam tinggi. Tanda-tanda fisik yang menyertainya meliputi batuk, pilek, serta konjungtivitis, dengan suhu tubuh yang bisa melonjak hingga 40,5 derajat Celsius pada hari keempat.

Fase berikutnya dicirikan dengan munculnya ruam merah yang dimulai dari area wajah sebelum menjalar ke seluruh bagian tubuh. Ruam ini biasanya menetap dalam durasi beberapa hari sebelum akhirnya menghilang secara bertahap.

"Ruam berlangsung selama 3 hingga 7 hari dan memudar dengan pola arah yang sama seperti saat muncul," terang Harimat.

Indikator medis spesifik lainnya adalah keberadaan bintik Koplik di area dalam mulut penderita. Gejala ini sering kali menjadi pembeda utama antara campak dengan penyakit serupa lainnya yang juga menimbulkan ruam pada kulit.

"Prevalensinya pada pasien campak berkisar antara 60 dan 70 persen. Keberadaan bintik koplik membedakan campak dari ruam serupa seperti roseola dan rubella," tuturnya.

Meskipun Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendefinisikan campak melalui gejala demam dan ruam makulopapular, diagnosis akhir tetap harus melalui validasi medis. Hal ini penting untuk memisahkan diagnosis dari penyakit lain seperti demam berdarah atau rubella.

"Pengujian laboratorium diperlukan untuk diagnosa pasti dikarenakan adanya kondisi lain yang dapat menyerupai campak, termasuk infeksi virus rubella, eritema infeksiosa, herpes, roseola infantum, dengue, dan demam scarlet," kata Harimat.

Proses konfirmasi laboratorium dilakukan dengan mendeteksi antibodi IgM melalui metode ELISA atau identifikasi RNA virus menggunakan teknik RT-PCR. Penanganan dini dan cakupan imunisasi yang luas menjadi kunci utama dalam menekan angka mortalitas akibat penyakit ini.

Artikel terkait

Rekomendasi