Sebuah fenomena medis yang sangat jarang terjadi dilaporkan melanda seorang perempuan berusia 59 tahun di Wisconsin, Amerika Serikat. Pasien tersebut mengejutkan tim dokter setelah benjolan kanker di lengan bawahnya mendadak hilang dengan sendirinya tanpa pengobatan medis.
Kondisi langka ini dikenal dalam dunia kedokteran sebagai regresi spontan, yaitu hilangnya sebagian atau seluruh sel kanker secara mandiri. Peristiwa mengejutkan ini terjadi setelah pasien menjalani prosedur pemeriksaan jaringan.
Kasus ini berawal saat pasien memeriksakan diri akibat benjolan yang tumbuh cepat di lengan kanannya. Seperti dilansir dari Media Indonesia, pemeriksaan fisik dan sinar-X menemukan massa keras berukuran 2x2 sentimeter yang berbentuk oval.
Hasil pemindaian MRI menunjukkan warna putih terang yang mengindikasikan adanya sarkoma, jenis kanker langka pada tulang atau jaringan lunak. Dokter kemudian melakukan biopsi jarum inti dan aspirasi jarum halus untuk mengambil sampel sel.
Analisis laboratorium memastikan bahwa pasien mengidap myxofibrosarcoma (MFS) derajat 2 atau tingkat keganasan menengah. Namun, pascabiopsi pasien melaporkan bahwa benjolan di lengannya tiba-tiba menyusut hingga tidak dapat dirasakan lagi dalam waktu dua minggu.
Meskipun benjolan telah hilang, tim medis tetap melakukan operasi pengangkatan jaringan secara luas (wide local excision) demi memastikan kendali atas penyakit tersebut. Saat jaringan diperiksa di laboratorium, dokter tidak menemukan satu pun sel kanker yang tersisa.
Jaringan tersebut hanya menunjukkan bekas luka dan inflamasi yang muncul akibat respons imun tubuh. Satu tahun setelah prosedur pengangkatan tersebut, pasien dilaporkan tetap bersih dari kanker.
Dalam laporan kasus yang diterbitkan bulan April, tim dokter mencatat bahwa regresi spontan pada sarkoma sangatlah langka. Dari 32 laporan kasus serupa sebelumnya, sebanyak 8 kasus atau 25 persen di antaranya mulai menyusut justru setelah tindakan biopsi diagnostik atau trauma fisik pada tumor.
Para penulis laporan berhipotesis bahwa kerusakan fisik pada struktur tumor saat jarum biopsi masuk menyebabkan protein terkait tumor terlepas ke aliran darah. Kondisi ini membuat sistem kekebalan tubuh mendeteksi keberadaan kanker.
Proses penyembuhan luka pascabiopsi kemudian memicu sel-immunitas berkumpul di area tersebut. Hal ini memicu serangan imun lokal yang akhirnya menghancurkan tumor secara menyeluruh.
Peringatan Klinis untuk Tenaga Medis
Meskipun fenomena ini mengagumkan, tim dokter memperingatkan bahwa penyusutan kanker secara mendadak ini bisa menjadi jebakan klinis bagi para tenaga medis.
"Pengamatan terhadap sarkoma yang menyusut menghadirkan jebakan klinis. Hal ini mungkin menggoda klinisi untuk membatalkan operasi," tulis penulis laporan kasus tersebut.
"Namun, tinjauan sistematis kami mengungkapkan bahwa meskipun beberapa regresi bersifat total, banyak yang hanya bersifat parsial atau sementara. Lebih jauh lagi, pada kelompok biopsi, hampir 40% spesimen yang diangkat masih mengandung sisa sel tumor meskipun secara klinis tampak menyusut."
Oleh karena itu, tim medis tetap merekomendasikan pengangkatan jaringan guna mengantisipasi adanya sel kanker yang masih bersembunyi. Para peneliti berharap dapat mengungkap mekanisme pasti dari regresi langka ini agar dapat direplikasi menjadi sebuah metode pengobatan di masa depan.