PT Kereta Api Indonesia (Persero) memperpanjang peron dan jalur rel 6 sampai 8 di Stasiun Bogor untuk meningkatkan kapasitas tampung penumpang. Berdasarkan laporan dari Megapolitan pada Selasa (19/5/2026), proyek ini ditargetkan membuat stasiun mampu melayani rangkaian Kereta Rel Listrik (KRL) yang memiliki 12 gerbong.
Sebelum pembangunan ini berjalan, kapasitas tampung jalur tersebut terbatas karena hanya dapat diisi oleh rangkaian kereta dengan jumlah 8 hingga 10 gerbong. Pekerjaan fisik di lapangan saat ini masih terus dikebut oleh para petugas konstruksi dengan menggunakan alat berat jenis beko berukuran kecil.
Progres pembangunan infrastruktur kelistrikan dilaporkan berjalan lebih cepat dibandingkan perluasan area peron. Pemasangan tiang listrik aliran atas kini telah menyentuh angka 80 persen, sementara pengerjaan rel dan peron baru mencapai 31 persen.
"Meningkatnya kualitas pelayanan karena daya tampung penumpang semakin besar seiring jalur 6, 7, 8 bisa dimasukin atau diisi oleh KRL SF 12 (12 kereta)," kata Manajer Humas PT KAI Daop 1 Jakarta Franoto Wibowo saat dihubungi Kompas.com, pada Selasa (19/5/2026).
Sebelumnya, penutupan peron 6 sampai 8 untuk pengerjaan konstruksi ini diperkirakan memakan waktu selama 90 hari. Kondisi tersebut membuat pihak operator harus merancang skenario khusus demi mengantisipasi kepadatan pengguna di dalam stasiun.
"Untuk pembangunan fisik, pemasangan tiang listrik aliran atas sudah 80 persen, pembangunan perpanjangan jalur rel dan peron sudah 31 persen," kata dia.
Manajemen KAI Commuter langsung mengonfirmasi adanya rekayasa pergerakan penumpang selama masa pembangunan berlangsung. Jalur alternatif berupa pedestrian sementara disiapkan di sebelah selasar stasiun yang terdampak penutupan.
"Jadi untuk flow penumpang ini akan ada area pedestrian sementara, temporary, di samping selasar yang saat ini sudah ditutup posisinya di Stasiun Bogor," tutur Karina di Stasiun Bogor, pada Rabu (15/4/2026).
Arus penumpang akan dipecah ke beberapa gerbang keluar, termasuk pengalihan sebagian pengguna menuju Pintu Timur ke arah Alun-alun Kota Bogor dan penggunaan Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) Paledang. Rekayasa arus ini diatur secara situasional mengikuti waktu-waktu sibuk stasiun.
"Dan nanti pada saat kondisi atau jam-jam kepadatan tertentu di Stasiun Bogor, kami akan melakukan untuk rekayasa flow penumpang yang akan diarahkan mungkin sebagian ke arah Hall Taman Topi dan sebagian juga bisa diarahkan yang akan menuju ke Hall Barat akan diarahkan melalui JPO Paledang," tutur dia.
Langkah penataan ini diambil sebagai konsekuensi logis dari peningkatan kapasitas prasarana perkeretaapian. Penyesuaian fasilitas stasiun dinilai mendesak demi kelancaran operasional kereta dengan formasi yang lebih panjang.
"Maka ada kebutuhan untuk pengembangan prasarana untuk mendukung kebutuhan layanan stanformasi 12 tersebut," kata dia.
Guna menghindari keterlambatan, para pengguna jasa angkutan massal ini diminta untuk rutin memeriksa pembaruan jadwal perjalanan. Informasi berkala dapat diakses pengguna melalui akun media sosial resmi milik KAI Commuter Line.