KAI Gandeng TÜV Rheinland Perkuat Keselamatan Operasional Kereta Api

KAI Gandeng TÜV Rheinland Perkuat Keselamatan Operasional Kereta Api
Foto: Ilustrasi KAI Gandeng TÜV Rheinland Perkuat Keselamatan Operasional Kereta Api.

PT Kereta Api Indonesia (Persero) memperkuat sistem keselamatan dan operasional melalui kolaborasi dengan lembaga global TÜV Rheinland di Jakarta pada Kamis (23/4/2026). Langkah ini diambil guna merespons lonjakan jumlah perjalanan kereta api yang telah melampaui angka 500 juta per tahun.

Peningkatan standar keamanan ini bertujuan untuk menjaga kepercayaan masyarakat di tengah ekspansi jaringan perkeretaapian nasional yang semakin meluas. Dilansir dari Nasional, KAI Group mencatat telah melayani sebanyak 128.055.072 pelanggan hanya pada triwulan pertama tahun 2026.

Pertumbuhan volume penumpang menunjukkan tren signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Data internal mencatatkan kenaikan dari 154,5 juta penumpang pada 2021 menjadi 503,6 juta orang pada pengujung 2025 yang menuntut ketepatan sistem operasional.

Direktur Portofolio Manajemen dan Teknologi Informasi KAI, I Gede Darmayusa, menjelaskan bahwa perkembangan skala operasi membutuhkan sistem yang terintegrasi dan responsif. Penguatan dilakukan pada pemeliharaan prasarana serta pengelolaan operasi berbasis data.

"Ketika lebih dari 500 juta perjalanan terjadi dalam satu tahun, sistem harus bekerja dengan presisi. Setiap proses perlu terukur, terintegrasi, dan mampu merespons risiko dengan cepat," ujar I Gede Darmayusa.

Pimpinan divisi teknologi informasi tersebut juga menyoroti pentingnya konsistensi sistem di balik layar dalam membangun reputasi layanan di mata publik.

"Kepercayaan publik lahir dari sistem yang berjalan disiplin dan dapat dipantau kinerjanya. Karena itu, penguatan dilakukan dari sisi pemeliharaan sarana, prasarana, hingga pengelolaan operasi berbasis data," tegas I Gede Darmayusa.

Sebagai bagian dari evaluasi teknis, KAI menerapkan pendekatan Reliability, Availability, Maintainability, Safety (RAMS). Metode ini melibatkan pemeriksaan fisik aset secara langsung di lapangan, mulai dari jalur rel hingga konstruksi jembatan.

Project Manager TÜV Rheinland, Brian Wong, menyatakan bahwa metode RAMS sangat efektif untuk mendeteksi potensi bahaya sejak tahap awal. Hal ini memberikan dasar bagi perusahaan untuk mengambil tindakan preventif yang tepat.

"Pendekatan RAMS membantu mengidentifikasi potensi risiko sejak awal dan memberikan rekomendasi yang dapat segera diterapkan untuk menjaga keandalan sistem," kata Brian Wong.

Saat ini, perusahaan pelat merah tersebut bertanggung jawab mengelola hampir 11.000 unit sarana dan jaringan rel sepanjang 8.178 kilometer. Sekitar 35 persen dari total sarana tersebut dijadwalkan akan masuk dalam fase peremajaan dalam beberapa tahun mendatang.

Fokus evaluasi keselamatan juga mencakup penanganan di perlintasan sebidang untuk menekan angka gangguan operasional. I Gede Darmayusa kembali menekankan bahwa stabilitas sistem harus berjalan selaras dengan peningkatan mobilitas warga.

"Pertumbuhan mobilitas perlu diikuti dengan sistem yang semakin kuat. KAI memastikan setiap perjalanan berjalan dalam kendali yang terukur dan dapat dipertanggungjawabkan," tutur I Gede Darmayusa.

Artikel terkait

Rekomendasi