KAI Bangun Dryport KEK Batang Guna Pangkas Biaya Logistik Nasional

KAI Bangun Dryport KEK Batang Guna Pangkas Biaya Logistik Nasional
Foto: Ilustrasi KAI Bangun Dryport KEK Batang Guna Pangkas Biaya Logistik Nasional.

PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI resmi menjalin kerja sama pengembangan transportasi logistik berbasis kereta api di Dryport Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Industropolis Batang pada Rabu (22/4/2026). Langkah strategis ini melibatkan sinergi dengan pengelola kawasan industri, Pelindo, serta pemerintah daerah untuk memperkuat konektivitas logistik nasional.

Integrasi moda transportasi rel ini bertujuan menghubungkan pusat industri secara langsung dengan pelabuhan internasional. Melalui skema tersebut, efisiensi distribusi barang diharapkan dapat memacu daya saing produk dalam negeri di pasar global.

"Pengembangan dryport di Batang menjadi bagian dari arah besar pembangunan ekosistem logistik nasional yang terintegrasi dari kawasan industri hingga ke pelabuhan," kata Bobby Rasyidin, Direktur Utama KAI sebagaimana dilansir dari Money.

Bobby menjelaskan bahwa wilayah Batang diproyeksikan tumbuh sebagai kawasan industri yang menyatu dengan konsep kota mandiri. Dalam rantai pasok ini, KAI berperan sebagai pengangkut komoditas dari dryport menuju pelabuhan, sementara Pelindo menangani aksesibilitas ke pasar internasional.

"Dengan integrasi ini, kita dorong biaya logistik turun dan lebih kompetitif," ujar Bobby Rasyidin.

Berdasarkan data internal, biaya logistik di Indonesia saat ini masih mencapai 15 hingga 20 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Angka tersebut terpaut jauh dari standar global yang berada di kisaran 7 sampai 8 persen, sehingga perbaikan infrastruktur menjadi krusial.

"Kalau kita bisa menurunkan biaya logistik secara signifikan, maka biaya produksi industri juga akan ikut turun. Dampaknya langsung terasa pada daya saing produk Indonesia di pasar global," lanjut Bobby Rasyidin.

KAI mencatatkan performa positif dengan total angkutan barang mencapai 63,6 juta ton sepanjang Januari hingga November 2025. Perusahaan kini sedang meningkatkan kapasitas angkut dengan memodifikasi gerbong dari kapasitas 50 ton menjadi 70 ton per unit.

Rangkaian kereta api logistik ini mampu menarik hingga 60 gerbong dengan total muatan mencapai 4.200 ton dalam satu kali perjalanan. Selain itu, rencana pembangunan jalur langsung ke pelabuhan tengah disiapkan guna mengatasi keterbatasan waktu operasional yang saat ini hanya tersedia lima jam per hari di jalur eksisting.

Pusat pergerakan logistik nasional mayoritas masih berpusat di Pulau Jawa dengan kontribusi mencapai 60 persen. Nilai biaya logistik di pulau ini diperkirakan menyentuh angka Rp 2.400 triliun hingga Rp 2.500 triliun per tahun.

Potensi besar juga terlihat dari volume pergerakan kontainer di wilayah Jawa Tengah yang mencapai sekitar 10 juta per tahun. Dryport Batang diposisikan sebagai agregator logistik yang memanfaatkan jaringan lebih dari 600 stasiun milik KAI di seluruh Jawa.

"Dryport ini kami dorong menjadi agregator logistik, selain melayani kawasan Batang juga melayani wilayah Jawa Tengah secara luas. Dengan jaringan lebih dari 600 stasiun yang dimiliki KAI di Pulau Jawa, potensi distribusi berbasis rel sangat besar," jelas Bobby Rasyidin.

Kinerja angkutan barang pada kuartal I 2026 menunjukkan tren peningkatan dengan volume sebesar 14,9 juta ton. Khusus untuk angkutan peti kemas, volume mencapai 1,37 juta ton, tumbuh signifikan dibandingkan periode yang sama pada 2025 sebesar 1,19 juta ton.

Aspek ketepatan waktu operasional juga mengalami kenaikan, di mana keberangkatan angkutan barang mencapai 95,97 persen. Sementara itu, tingkat ketepatan waktu kedatangan berada pada angka 91,77 persen, lebih baik dari capaian tahun sebelumnya yang tercatat 87,04 persen.

"Melalui pengembangan dryport berbasis rel ini, KAI menargetkan terbentuknya sistem logistik nasional yang lebih terintegrasi, efisien, dan mampu menurunkan biaya logistik," ujar Bobby Rasyidin.

Pembangunan infrastruktur logistik terpadu ini diharapkan menjadi fondasi utama dalam memperkuat konektivitas antarwilayah. Fokus utama tetap pada penciptaan ekosistem industri yang efisien demi mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

"Upaya ini diharapkan menjadi landasan bagi peningkatan daya saing industri Indonesia di tingkat global sekaligus memperkuat konektivitas antarkawasan di dalam negeri," tutup Bobby Rasyidin.

Artikel terkait

Rekomendasi