Layanan kereta api di jalur tersibuk Daop 1 Jakarta mengalami kelumpuhan total setelah KA Argo Bromo Anggrek menabrak bagian belakang KRL TM 5568A di peron Stasiun Bekasi Timur. Insiden yang melibatkan rangkaian relasi Gambir-Surabaya Pasar Turi tersebut dilaporkan memicu jatuhnya korban jiwa sebagaimana dilansir dari Detik Travel.
Pengamat transportasi publik bidang perkeretaapian, Joni Martinus, menyampaikan rasa prihatin sekaligus duka mendalam atas musibah tersebut. Ia menekankan bahwa kejadian ini harus menjadi momentum evaluasi bagi PT Kereta Api Indonesia (KAI) dan Kereta Commuter Indonesia (KCI) guna mencegah peristiwa serupa terulang kembali.
"Evaluasi dan perbaikan harus dilakukan secara menyeluruh seperti pembenahan dan peningkatan pembinaan SDM, penerapan prosedur operasional yang ketat , serta memastikan kehandalan sarana dan prasarana," ujar Joni Martinus, Pengamat Transportasi Publik.
Joni juga mendesak Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) untuk segera melakukan investigasi mendalam guna menemukan penyebab pasti kecelakaan. Hal ini mencakup pemeriksaan terhadap sistem persinyalan yang seharusnya mencegah dua kereta berada dalam satu blok petak jalan yang sama.
"Prinsip absolute block system persinyalan pada perkeretaapian Indonesia mewajibkan sinyal masuk berwarna merah selama ada kereta di petak blok depan. Fakta bahwa KA Argo Bromo Anggrek dapat masuk hingga menabrak KRL di depannya, ini menjadi hal yang patut di dalami dan menjadi perhatian KNKT," ujar Joni Martinus, Pengamat Transportasi Publik.
Terdapat beberapa faktor teknis dan non-teknis yang berpotensi memicu tabrakan dari belakang, mulai dari pelanggaran sinyal merah hingga kegagalan sistem atau wrong side failure. Selain itu, potensi miskomunikasi terkait batas kecepatan dan masalah teknis pengereman pada sarana juga menjadi poin yang perlu dicermati oleh tim investigasi.
"Hakikatnya mencegah kecelakaan kereta api memerlukan intervensi berlapis di berbagai bidang, termasuk prosedur operasional, faktor manusia, teknologi, dan pengawasan regulasi," ujar Joni Martinus, Pengamat Transportasi Publik.
Pihak pengamat mengapresiasi respons cepat yang ditunjukkan oleh KAI, KCI, beserta jajaran TNI, Polri, dan Basarnas dalam menangani situasi di lapangan. Hingga saat ini, petugas gabungan masih terus melakukan proses evakuasi terhadap korban maupun material kereta yang terdampak kecelakaan di lokasi kejadian.