Juru bicara Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI Jusuf Kalla (JK), Husain Abdullah, memberikan klarifikasi terkait pernyataan JK mengenai sejarah karier politik Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) pada Senin, 20 April 2026. Penegasan ini bertujuan agar para pendukung setia Jokowi memahami akar permasalahan historis antara kedua tokoh tersebut.
Pernyataan tersebut merujuk pada pengakuan JK mengenai perannya dalam membawa Jokowi dari Solo untuk bertarung di Pemilihan Gubernur DKI Jakarta. Dilansir dari Kompas, Husain menyebut bahwa pengungkapan fakta ini menjadi penting untuk menanggapi persepsi negatif dari sejumlah pihak terhadap posisi Jusuf Kalla.
"Itu disampaikan untuk kepada loyalis-loyalis Jokowi supaya memahami masalahnya, akar permasalahan atau historisnya," kata Husain Abdullah, Juru Bicara Jusuf Kalla.
Husain kemudian menyoroti bahwa pengakuan mengenai andil JK sebenarnya pernah disampaikan sendiri oleh Jokowi pada masa awal kepemimpinannya di ibu kota. Rekam jejak digital menunjukkan bahwa Jokowi pernah memberikan pernyataan senada di berbagai media massa sejak tahun 2012 silam.
"Dan secara rendah hati kan saya sudah baca juga Pak Jokowi secara tidak langsung mengakui dan dari jauh hari, dari tahun 2012 sebenarnya Pak Jokowi sudah statement di berbagai media," kata Husain Abdullah, Juru Bicara Jusuf Kalla.
Fakta tersebut diperkuat dengan rujukan waktu spesifik saat Jokowi mulai menjajaki panggung politik nasional. Husain menilai tidak ada masalah krusial karena fakta ini didasarkan pada kejujuran yang pernah terucap di masa lalu.
"Waktu itu 5 Agustus 2012, itu mengakui secara jujur, tulus bahwa ya benar Pak JK yang pertama kali minta saya ikut Pilgub DKI. Jadi sebenarnya tidak ada masalah," lanjut Husain Abdullah, Juru Bicara Jusuf Kalla.
Terkait dinamika hubungan saat ini, pihak JK menyambut baik jika terdapat rencana pertemuan antara kedua tokoh bangsa tersebut. Hal ini dinilai sebagai langkah positif bagi stabilitas dan kemajuan komponen bangsa di masa depan.
"Ya mudah-mudahan, itu lebih bagus. Supaya, ini kan kita semua baik Projo maupun siapa pun komponen bangsa itu pasti ingin melihat bangsa yang lebih bagus ke depan," tutur Husain Abdullah, Juru Bicara Jusuf Kalla.
Sebelumnya, Jusuf Kalla telah memberikan pernyataan terbuka dalam konferensi pers yang digelar di kediamannya pada Sabtu, 18 April 2026. Ia menegaskan kembali andilnya dalam memindahkan basis kepemimpinan Jokowi dari tingkat daerah ke tingkat provinsi.
"Siapa yang bawa Jokowi ke Jakarta? Saya yang bawa Jokowi ke Jakarta dari Solo, untuk jadi gubernur. Saya yang bawa," kata Jusuf Kalla, Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI.
JK menceritakan proses negosiasi politik yang ia lakukan saat itu untuk mendapatkan tiket pencalonan. Ia mengaku harus melakukan lobi langsung kepada pimpinan tertinggi partai pengusung demi mendapatkan restu bagi Jokowi.
"Akhirnya beliau setuju. Jadilah gubernur," ungkap Jusuf Kalla, Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI.
Mantan Ketua Umum Partai Golkar tersebut juga mengaitkan posisi Gubernur DKI sebagai batu loncatan yang sangat krusial bagi kemenangan Jokowi dalam pemilihan presiden selanjutnya. Ia menekankan bahwa jabatan gubernur adalah syarat mutlak dalam peta jalan politik tersebut.
"Apa kurangnya saya coba? Saya bawa ke Jakarta. Kasih tahu semua itu, termul-termul itu, Jokowi jadi presiden karena saya. Kan tanpa gubernur, mana bisa jadi presiden?" imbuh Jusuf Kalla, Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI.
Husain Abdullah menambahkan bahwa pernyataan tersebut murni untuk meluruskan fakta sejarah, bukan bermaksud menyombongkan jasa. Selama ini, JK cenderung menahan diri untuk tidak mempublikasikan hal tersebut demi menjaga harmoni politik.
"Pak JK tidak sedang menjelaskan jasanya, saya kira tidak. Beliau sedang mengungkapkan suatu fakta, bagaimana posisi beliau dan peranannya pada saat pencalonan Pak Jokowi ketika akan menjadi Gubernur DKI," kata Husain Abdullah, Juru Bicara Jusuf Kalla.
Keputusan untuk berbicara ke publik diambil setelah muncul narasi dari beberapa kelompok pendukung yang memberikan kesan seolah-olah Jusuf Kalla bertindak tidak etis setelah sempat menjabat sebagai wakil presiden pendamping Jokowi.
"Kenapa ini dikeluarkan? Sebenarnya sudah lama Pak JK tidak mengungkapkan secara publish, karena tentu menjaga banyak hal, karena ini sesuatu yang tidak perlu diumbar juga," tambahnya Husain Abdullah, Juru Bicara Jusuf Kalla.
Narasi yang berkembang di media sosial dan ruang publik tersebut memicu JK untuk meluruskan duduk perkara agar tidak terjadi kesalahpahaman mengenai siapa yang sebenarnya berhutang budi dalam relasi politik mereka.
"Tetapi karena makin ke sini kelihatannya banyak, ada beberapa ya loyalis-loyalis Pak Jokowi, yang mengesankan Pak JK ini kok seperti orang tidak tahu berterima kasih," lanjut Husain Abdullah, Juru Bicara Jusuf Kalla.
Husain menutup penjelasannya dengan menyatakan bahwa JK hanya ingin menyampaikan kebenaran substantif agar tidak ada lagi tuduhan yang menyudutkan dirinya.
"Kemudian seperti tidak tahu berbalas budi, padahal sudah diangkat atau ditempatkan sebagai wakil presiden oleh Pak Jokowi. Oleh karena itu, beliau akhirnya merasa perlu menyampaikan fakta yang sebenarnya, bahwa yang tidak berterima kasih dan tidak berbalas budi ya siapa," ungkap Husain Abdullah, Juru Bicara Jusuf Kalla.