Mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyatakan kesiapannya untuk terjun langsung ke tengah masyarakat hingga tingkat kecamatan guna memenangkan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) melalui penguatan jaringan struktur partai dari lapisan bawah.
Kesiapan tersebut disampaikan Jokowi untuk membangun kekuatan partai yang nyata di tengah masyarakat, sebagaimana dilansir dari Nasional. Ia menekankan pentingnya militansi pengurus dalam membesarkan partai berlogo mawar tersebut.
"Kalau diperlukan saya harus datang, saya masih sanggup. Saya masih sanggup datang ke provinsi-provinsi, semua provinsi. Saya masih sanggup datang ke kabupaten/kota, kalau perlu sampai tingkat kecamatan saya masih sanggup," tegas Jokowi dalam Rakernas PSI di Hotel Claro, Makassar, Sabtu (31/1/2026).
Jokowi merinci luasnya wilayah Indonesia yang mencakup puluhan provinsi serta ribuan kecamatan sebagai medan perjuangan politik yang siap ia tempuh demi mendongkrak perolehan suara partai.
"Kita (Indonesia) inikan punya 38 Provinsi, 514 Kabupaten/Kota, dan kira kira 7.000 kecamatan, saya masih sanggup," tambah dia.
Ia juga memberikan motivasi kepada para kader mengenai dedikasi total yang akan ia berikan dalam proses pemenangan ini selaras dengan kerja keras seluruh jajaran partai.
"Saudara saudara bekerja keras untuk PSI, saya pun akan bekerja keras untuk PSI. Saudara bekerja mati matian untuk PSI, saya pun akan bekerja mati matian," tegas Jokowi.
Di sisi lain, Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting, Pangi Syarwi Chaniago, menilai tantangan besar membayangi langkah tersebut akibat perubahan sentimen publik terhadap sang mantan presiden pada Jumat (15/5/2026).
Pangi menjelaskan bahwa masyarakat kini berada dalam fase melakukan evaluasi kritis terhadap kinerja pemerintahan selama satu dekade terakhir yang berdampak pada perubahan persepsi di ruang digital.
"Justru hari ini orang memaki, men-downgrade dan mencaci Jokowi di media sosial. Jadi kita lihat nanti namanya usaha ya, enggak apa-apa namanya keyakinan usaha, coba saja, semoga berhasil," ujar Pangi kepada Kompas.com.
Analis politik ini juga menyoroti kegagalan PSI menembus parlemen pada Pemilu 2024 meski telah mengusung narasi Jokowisme, yang menurutnya menjadi bukti bahwa nama besar tidak menjamin kemenangan mutlak.
"(PSI waktu itu belum lolos) Karena mungkin Jokowinya belum turun gunung. Nah, katanya sekarang Jokowi mau langsung kampanye 24 jam tanpa tidur dari Sabang sampai Merauke. Menyapa, menyalami, bertatap muka ketemu sama masyarakat Indonesia," ujar Pangi.
Ketergantungan tinggi PSI dan relawan Projo terhadap figur Jokowi dianggap masih sangat dominan dibandingkan dengan kekuatan internal organisasi masing-masing kelompok tersebut.
"Sejauh yang kita cermati kan merasa Jokowi effect itu lebih besar daripada Projo maupun PSI effect, sehingga memang ketergantungan PSI sama Projo ke Jokowi kan masih kuat, relatif masih tinggi,ÔÇØ kata Pangi.