Jerman tercatat sebagai negara pengekspor limbah plastik terbesar di dunia sepanjang tahun 2025 dengan volume pengiriman ke luar negeri mencapai lebih dari 810.000 ton. Dilansir dari Lestari pada Senin (4/5/2026), Inggris menempati posisi kedua dengan angka ekspor mencapai 675.000 ton sampah.
Data dari Watershed Investigations dan Basel Action Network menunjukkan ekspor Inggris tersebut merupakan angka tertinggi dalam delapan tahun terakhir. Sebagian besar limbah dari kedua negara Eropa itu dikirimkan menuju Turki, Malaysia, dan Indonesia melalui jaringan industri daur ulang.
Hasil investigasi mengungkap bahwa praktik ekspor ini memicu kerusakan lingkungan serius, pembuangan ilegal, hingga pelanggaran hak pekerja. Kondisi ini diperparah dengan temuan polusi mikroplastik yang masif di wilayah perairan negara penerima akibat aktivitas pabrik pengolah limbah.
"Pantai Mediterania Turki adalah yang paling tercemar di seluruh wilayah itu akibat limbah plastik dari pabrik daur ulang. Ada sangat banyak mikroplastik, kadang orang bahkan tidak bisa masuk ke laut karena banyaknya sampah," ungkap Sedat Gundogdu, ahli biologi kelautan Turki.
Gundogdu menambahkan bahwa infrastruktur pengelolaan limbah di negaranya saat ini sudah tidak mampu menampung beban volume sampah yang masuk. Kapasitas pengolahan domestik kalah jauh dibandingkan total limbah yang harus dikelola setiap tahunnya.
"Negara ini menghasilkan 3,3 juta ton limbah plastik domestik, lebih dari dua kali kapasitas daur ulang kami," tutur Sedat Gundogdu.
Berbeda dengan Eropa, Amerika Serikat menempati posisi kelima dengan ekspor 385.000 ton pada 2025 karena sebagian limbah dikelola secara domestik. China berada di peringkat ke-18 pada 2024 seiring berkurangnya tekanan target daur ulang resmi dibandingkan negara-negara Uni Eropa.
Sara Matthieu, Anggota Parlemen Eropa European Free Alliance, menilai kebijakan larangan ekspor ke negara non-OECD mulai November 2026 sebagai langkah tanggung jawab. Namun, ia menyoroti adanya hambatan pasar terkait harga material yang tidak kompetitif.
ÔÇ£Masalah utamanya adalah plastik baru masih jauh lebih murah dibandingkan bahan daur ulang. Kegagalan pasar ini sudah lama diketahui, tetapi Komisi Eropa belum cukup serius menangani akar masalahnya,ÔÇØ jelas Sara Matthieu.
Kekhawatiran juga muncul dari Environmental Investigation Agency terkait potensi pengalihan rute ekspor limbah ke negara OECD yang belum memiliki kapasitas memadai. Inggris diperkirakan bisa menjadi titik transit limbah Uni Eropa sebelum dikirim ke negara ketiga.
ÔÇ£Kekhawatiran lain adalah meningkatnya ekspor dari UE ke Inggris, yang kemudian bisa diekspor ulang ke negara ketiga, termasuk negara non-OECD seperti Malaysia. Otoritas berusaha mencegah hal ini, tetapi Inggris membutuhkan perubahan kebijakan yang lebih besar dan menyeluruh," beber Amy Youngman, perwakilan Environmental Investigation Agency.
Pemerintah Inggris melalui Departemen Lingkungan, Pangan, dan Urusan Pedesaan menyatakan sedang melakukan peninjauan data pengelolaan limbah luar negeri. Fokus utama saat ini adalah membangun sistem ekonomi sirkular untuk mengurangi ketergantungan pada pengiriman sampah ke negara lain.
ÔÇ£Rencana pertumbuhan ekonomi sirkular kami akan menjelaskan bagaimana kami membangun sistem yang lebih berkelanjutan dan tidak bergantung pada ekspor limbah plastik," sebut Juru bicara Departemen Lingkungan, Pangan, dan Urusan Pedesaan Inggris.