Pemerintah Jepang merevisi kekuatan gempa bumi di lepas pantai Iwate dari magnitudo 7,5 menjadi 7,7 pada Senin (20/4/2026). Otoritas setempat segera memerintahkan ribuan penduduk di wilayah pesisir timur laut untuk mengungsi ke lokasi yang lebih tinggi guna menghindari risiko gelombang tsunami.
Berdasarkan laporan BBC pada Selasa (21/4/2026), titik gempa berada di perairan Prefektur Iwate, sekitar 530 kilometer di utara Tokyo, dengan kedalaman 10 kilometer. Sebagaimana dilansir dari Detik Travel, otoritas telah menurunkan perintah evakuasi dan peringatan dini tsunami dengan perkiraan tinggi gelombang mencapai tiga meter.
Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi meminta masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi bencana susulan. Ia menekankan pentingnya kesiapan rute evakuasi dan logistik darurat bagi setiap rumah tangga.
"Pemerintah akan berupaya semaksimal mungkin jika terjadi keadaan darurat," ucap Takaichi, dikutip dari AP.
Pernyataan tersebut disampaikan menyusul langkah Badan Meteorologi Jepang (JMA) yang menetapkan status siaga tsunami untuk Prefektur Aomori, Iwate, dan sebagian wilayah Hokkaido. Sekretaris Kabinet Minoru Kihara melaporkan gangguan pada operasional kereta cepat dan pemadaman listrik di 100 rumah, namun belum ditemukan laporan korban luka serius.
Di sisi lain, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Tokyo terus memantau situasi warga negara Indonesia (WNI) yang berada di area terdampak. Koordinator Fungsi Penerangan Sosial Budaya KBRI Tokyo, Muhammad Al Aula, memastikan koordinasi dengan otoritas lokal tetap berjalan intensif.
"Seiring dengan itu pemantauan kondisi terkini dari WNI (warga negara Indonesia) juga dilakukan melalui komunikasi berkala dengan simpul-simpul masyarakat khususnya di wilayah Prefektur Iwate, Aomori, dan Hokkaido," kata Muhammad Al Aula, Koordinator Fungsi Penerangan Sosial Budaya KBRI Tokyo.
Hingga kini, pihak kedutaan mengonfirmasi belum ada laporan mengenai WNI yang menjadi korban dalam peristiwa tersebut. Meski demikian, masyarakat Indonesia diimbau untuk tidak mendekati area pantai dan terus memantau informasi resmi dari pemerintah setempat.
"Meski demikian kami imbau kepada teman-teman WNI agar tetap tenang dan terus memonitor perkembangan tsunami warning serta mengikuti imbauan dari pemerintah setempat," tambah Muhammad Al Aula.
Sesuai protokol keselamatan Jepang, status peringatan tsunami kali ini berada pada tingkat tertinggi kedua. Masyarakat diwajibkan segera menjauhi tepi sungai dan wilayah pesisir untuk berpindah ke gedung evakuasi atau dataran yang lebih tinggi sesuai instruksi petugas lapangan.