CEO Nvidia Jensen Huang menyatakan optimisme tinggi bagi para lulusan baru untuk memulai karier di tengah maraknya kekhawatiran pemutusan hubungan kerja akibat tren kecerdasan buatan atau AI.
Pandangan tersebut disampaikan oleh Huang saat memberikan pidato wisuda di Carnegie Mellon University pada pekan lalu, seperti dilansir dari Tekno.
"Sekarang adalah waktunya bagi Anda untuk mewujudkan impian Anda, dan momentumnya tidak mungkin lebih sempurna dari ini," ujar Huang di hadapan para wisudawan.
Miliarder teknologi berusia 61 tahun itu menilai kehadiran kecerdasan buatan bertindak sebagai jembatan penutup kesenjangan teknologi yang membuka peluang baru bagi generasi muda.
Namun, pandangan positif pendiri Nvidia tersebut bertolak belakang dengan fakta kecemasan publik terhadap dampak AI pada dunia kerja saat ini.
Berdasarkan studi Pew Research Center, separuh masyarakat Amerika Serikat merasa lebih khawatir daripada bersemangat melihat maraknya penggunaan AI sehari-hari.
Dampak di dunia kerja sangat terasa setelah perusahaan besar seperti Cloudflare dan Snap melakukan PHK terhadap ribuan karyawan tahun ini dengan alasan peningkatan efisiensi berkat AI.
Proses mencari kerja bagi lulusan baru juga semakin sulit hingga memicu tingkat pengangguran fresh graduate menyentuh rekor tertinggi dalam empat tahun terakhir pada awal tahun 2026 ini.
Ketakutan publik ini juga dipicu oleh pernyataan para pencipta teknologi itu sendiri mengenai potensi pemusnahan lapangan kerja tingkat pemula.
CEO Anthropic Dario Amodei tahun lalu memperingatkan bahwa kecerdasan buatan bisa memusnahkan setengah dari pekerjaan tingkat pemula bagi pekerja kerah putih.
Kekhawatiran ekstrem lain juga disuarakan oleh tokoh teknologi global mengenai risiko fatal perkembangan teknologi kecerdasan buatan bagi umat manusia.
"20 persen kemungkinan pemusnahan" ujar Elon Musk pada bulan Februari lalu.
Sentimen negatif yang terus berkembang ini dikhawatirkan dapat memengaruhi jalannya pemilihan umum paruh waktu mendatang di Amerika Serikat.
Merespons berbagai prediksi suram tersebut, Huang secara terbuka meminta para pemimpin perusahaan pengembang kecerdasan buatan untuk lebih bijak dalam memberikan pernyataan ke publik.
Dalam podcast Memos to the President awal bulan ini, ia menekankan bahwa para pemimpin perusahaan AI harus lebih "berhati-hati" dalam berbicara mengenai teknologi tersebut.