Jensen Huang Ingatkan Ancaman Teknologi AI China Terhadap Amerika

Jensen Huang Ingatkan Ancaman Teknologi AI China Terhadap Amerika
Foto: Ilustrasi Jensen Huang Ingatkan Ancaman Teknologi AI China Terhadap Amerika.

CEO Nvidia Jensen Huang memperingatkan adanya potensi ancaman serius bagi posisi Amerika Serikat akibat kemajuan pesat model kecerdasan buatan (AI) China seperti DeepSeek yang berjalan pada infrastruktur chip dalam negeri. Hal tersebut dilansir dari Detik iNET melalui kemunculan Huang dalam sebuah siniar baru-baru ini.

Kekhawatiran pimpinan perusahaan semikonduktor raksasa tersebut didasari oleh terciptanya ekosistem teknologi independen di China yang berpeluang menggeser standar global teknologi Amerika. Huang secara terbuka menyatakan penolakan terhadap opsi pemutusan hubungan pasar secara total dengan negara tersebut.

"Saat AI menyebar ke seluruh dunia, standar mereka, tumpukan teknologi mereka, akan menjadi lebih unggul dari kita, karena model mereka bersifat terbuka," kata Huang, CEO Nvidia.

Kemajuan penelitian AI di China dipandang sangat cepat oleh Huang, dengan menyoroti kehadiran DeepSeek sebagai salah satu pencapaian yang signifikan. Penyatuan antara perangkat lunak terbuka dengan perangkat keras lokal menjadi poin krusial dalam analisisnya.

"DeepSeek bukanlah sebuah kemajuan yang bisa diabaikan," catat Huang.

Pimpinan perusahaan berusia 63 tahun ini menggarisbawahi bahwa optimasi model open source pada arsitektur Huawei akan merugikan posisi perangkat keras buatan Amerika. Hal ini dianggap sebagai tantangan besar bagi dominasi teknologi AS di masa depan.

"I akan memberi tahu Anda kabar buruknya, bahwa model-model AI di seluruh dunia dikembangkan dan berjalan paling baik di hardware non Amerika. Itu kabar buruk bagi kita. Jika tahun-tahun ke depan ini sangat penting, maka kita harus memastikan semua model AI di dunia dibangun di atas tumpukan teknologi Amerika," tambahnya.

Dalam kesempatan yang sama, Huang juga memberikan tanggapan terhadap analogi yang membandingkan komputasi AI dengan uranium yang diperkaya. Ia menilai perbandingan tersebut tidak tepat karena mikroprosesor dan komponen memori sudah menjadi komoditas global.

"membandingkan chip AI dengan senjata nuklir adalah kegilaan mengingat mikroprosesor dan DRAM sudah diekspor dan diproduksi secara luas," ujar Huang.

Langkah isolasi pasar dinilai bukan solusi tepat oleh Huang untuk menghadapi ancaman keamanan siber. Ia justru menyarankan adanya komunikasi internasional guna menentukan batas-batas keamanan teknis antarnegara serta melindungi sektor teknologi AS.

Artikel terkait

Rekomendasi