Pulau Buton di Sulawesi Tenggara memegang peran vital sebagai daerah penghasil aspal alam terbesar di Indonesia. Material alami ini dikenal luas oleh masyarakat dengan sebutan Asbuton atau Aspal Buton.
Dikutip dari Kompas, Asbuton merupakan sumber daya alam yang ditambang langsung dari batuan dengan kandungan bitumen tinggi. Seiring kemajuan teknologi, material ini kini dikembangkan menjadi berbagai varian produk.
Pemerintah tengah menggenjot pemanfaatan Asbuton dalam proyek pengaspalan jalan nasional. Kebijakan ini merupakan bagian dari program hilirisasi untuk meningkatkan nilai tambah sekaligus menekan impor aspal minyak.
Asosiasi Pengembang Aspal Buton Indonesia (Aspabi) mencatat ada enam jenis produk olahan yang kini tersedia untuk kebutuhan pasar konstruksi. Setiap jenis memiliki karakteristik dan fungsi spesifik.
1. Asbuton B 5/20
Varian ini berasal dari tambang Kabungka yang telah melalui proses granulasi menjadi butiran. Produk ini memiliki nilai penetrasi sekitar 5 dengan kadar bitumen mencapai 20 persen.
Asbuton B 5/20 umumnya digunakan sebagai additive atau bahan tambahan untuk memperkuat mutu campuran aspal. Material ini diproses di Asphalt Mixing Plant (AMP) bersama Aspal Pen 60/70.
2. Asbuton B 50/30
Jenis B 50/30 diambil dari tambang Lawele dan diolah menjadi bentuk butiran granular. Karakteristiknya memiliki nilai penetrasi sekitar 50 dan kadar bitumen sebesar 30 persen.
Produk ini berfungsi sebagai substitusi Aspal Pen 60/70 dalam pembuatan campuran panas (hot mix). Selain itu, material ini diaplikasikan pada Butur Seal dan Lapis Penetrasi Macadam Asbuton (LPMA).
3. Asbuton Pracampur
Berbeda dengan jenis butiran, Asbuton Pracampur adalah hasil pencampuran Asbuton dengan Aspal Pen 60/70 sejak di pabrik. Tingkat kemurnian produk ini sangat tinggi, yakni di atas 90 persen.
Keunggulan utamanya adalah kepraktisan penggunaan karena dapat langsung dimasukkan ke ketel AMP tanpa tambahan aspal lagi. Hasilnya setara dengan campuran aspal modifikasi yang berkualitas tinggi.
4. Asbuton Kadar Bitumen Tinggi
Jenis ini melalui proses pemurnian sebagian sehingga menghasilkan produk yang dikategorikan sebagai semi ekstraksi. Fungsinya adalah sebagai bahan tambahan untuk meningkatkan kualitas jalan.
Saat diaplikasikan di AMP dengan tambahan Aspal Pen 60/70, material ini akan menghasilkan campuran hot mix yang tangguh. Kualitas yang dihasilkan diklaim setara dengan penggunaan aspal modifikasi.
5. Asbuton Murni
Asbuton Murni diproses dari tambang Lawele melalui tahap pemurnian total hingga bebas dari kandungan mineral lain. Produk ini memiliki spesifikasi yang setara dengan Aspal Pen 60/70 atau Pen 40/50.
Karena sifat kemurniannya, jenis ini bisa langsung digunakan untuk berbagai pekerjaan konstruksi jalan. Pemanfaatannya identik dengan penggunaan aspal minyak konvensional pada umumnya.
6. Cold Paving Hot Mix Asbuton (CPHMA)
CPHMA merupakan solusi praktis berupa campuran dingin (cold mix) yang siap dihamparkan di lokasi proyek. Produk ini dibuat melalui proses panas menggunakan Asbuton B 50/30 dan modifier khusus.
Keunggulan CPHMA terletak pada kemampuannya untuk diaplikasikan pada suhu ruang dan daya simpan hingga enam bulan dalam kemasan karung. Produk ini sangat ideal untuk pemeliharaan jalan berlubang.
Saat ini, CPHMA mampu menggantikan penggunaan aspal minyak hingga 100 persen. Fasilitas produksinya pun telah tersebar mulai dari Sulawesi Tenggara, Jawa Tengah, hingga Jawa Timur.