Jutaan jemaah haji dari berbagai belahan dunia kini tengah berjuang menghadapi tantangan fisik yang berat di Mina, Arab Saudi. Dilansir dari Media Indonesia, fase wukuf di Padang Arafah dan mabit di Muzdalifah telah selesai dilaksanakan pada Selasa (26/5) malam.
Kini, seluruh jemaah mulai memasuki tahapan krusial yaitu melempar Jumrah Aqabah. Prosesi ibadah ini harus dijalani di bawah sengatan suhu udara ekstrem yang menyentuh angka 49 derajat Celsius.
Para jemaah yang memilih nafar awal akan menetap di Mina selama tiga hari. Sementara itu, jemaah yang mengambil pilihan nafar tsani bakal tinggal selama empat hari guna merampungkan seluruh rangkaian pelemparan jumrah.
Pembimbing Ibadah Haji dan Umrah dari KBIHU Ibnu Mas'ud Provinsi Aceh, Abdullah AR, memaparkan bahwa kendala utama jemaah saat ini terletak pada jarak tempuh menuju lokasi Jamarat. Hambatan kian terasa karena tidak ada akses kendaraan yang diizinkan melintas di jalur tersebut.
"Jarak antara tenda tempat tinggal dan lokasi pelemparan jumrah berkisar 3 km hingga 4,5 km. Artinya, untuk perjalanan pulang-pergi, jemaah harus berjalan kaki sekitar 6 hingga 10 km, tergantung lokasi tenda yang ditempati," ujar Abdullah AR kepada Media Indonesia, Rabu (27/5).
Abdullah, yang pernah menjabat sebagai Kepala Kantor Haji dan Umrah Kabupaten Pidie, Aceh, memandang momen berat ini sebagai bentuk napak tilas perjuangan Rasulullah SAW beserta para Nabi terdahulu. Ritual ini menuntut keteguhan iman sekaligus kesiapan fisik yang prima.
Mengingat kondisi cuaca yang sangat menyengat, jemaah lansia, uzur, atau mereka yang kondisi kesehatannya tidak stabil diimbau untuk mengambil langkah alternatif. Mereka disarankan mewakilkan atau membadalkan ibadah lempar jumrah kepada orang lain atau anggota kelompok yang lebih bugar.
Dampak Udara Kering Terhadap Kesehatan
Situasi di lapangan menunjukkan bahwa cuaca panas ekstrem mulai memengaruhi kondisi tubuh para jemaah. Udara yang kering memicu gangguan kesehatan massal berupa masalah tenggorokan dan batuk-batuk.
"Saya sendiri sudah mulai terganggu tenggorokan dan batuk, sehingga berpengaruh terhadap suara. Banyak jemaah lain juga mengalami hal serupa," tutur pria yang akrab disapa Abi Abdullah tersebut.
Disiplin dalam menerapkan pola hidup sehat sangat ditekankan bagi jemaah asal Indonesia, khususnya dari Embarkasi Aceh (BTJ). Mengonsumsi air putih dalam jumlah banyak menjadi langkah krusial demi mencegah dehidrasi, di samping menghindari aktivitas di luar tenda yang kurang mendesak.
"Haji adalah ibadah fisik yang memerlukan energi memadai. Kami berharap semua jemaah dapat menjaga kebugaran hingga rangkaian ibadah selesai dan mencapai haji yang mabrur," tambahnya.
Statistik dan Pengawasan Petugas
Kuota haji global pada tahun ini mencatat partisipasi lebih dari 3 juta umat Muslim. Indonesia bertindak sebagai negara pengirim jemaah terbesar dengan total 221.000 jemaah, termasuk di dalamnya 5.426 orang dari embarkasi Aceh (BTJ).
Pemerintah melalui Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) terus memantau pergerakan jemaah di lapangan. Pos-pos layanan kesehatan disiagakan di sepanjang jalur Jamarat guna mengantisipasi jatuhnya korban akibat kelelahan akut atau serangan heatstroke.
Di sisi lain, Juru Bicara Kementerian Haji dan Umrah, Maria Assegaff menyatakan bahwa seluruh tahapan pergerakan berjalan sesuai skema operasional yang telah disiapkan. Namun, tantangan transportasi kaki tetap membuat sejumlah jemaah haji lansia asal Brebes terpaksa mewakilkan lontar jumrah karena keterbatasan fisik pascawukuf.