Jemaah Haji Mandiri Sumenep Sukses Jalankan Ibadah Tanpa KBIHU

Jemaah Haji Mandiri Sumenep Sukses Jalankan Ibadah Tanpa KBIHU
Foto: Ilustrasi Jemaah Haji Mandiri Sumenep Sukses Jalankan Ibadah Tanpa KBIHU.

Sebanyak 43 jemaah haji mandiri yang tergabung dalam Kelompok Terbang (Kloter) SUB 77 asal Sumenep, Jawa Timur, berhasil menjalankan ibadah di Makkah tanpa pendampingan Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU). Keberhasilan rombongan ini didukung oleh persiapan manasik mandiri yang matang serta pendampingan intensif dari petugas kloter setempat, seperti dilansir dari Nasional pada Kamis (14/5/2026).

Ketua rombongan jemaah mandiri, Kamil, memimpin kelompok tersebut meski usianya belum genap 30 tahun. Pemuda asal Sumenep ini memperkuat pemahaman manasik sebelum berangkat dengan belajar kembali kepada guru-guru pesantren di kampung halamannya.

"Awalnya saya juga berpikir mungkin lebih aman kalau ada pendamping dari KBIHU. Tapi setelah bertemu petugas-petugas kloter, kami merasa cukup didampingi," kata Kamil di Makkah, Kamis (14/5/2026).

Kamil menghadapi tantangan berupa perbedaan kemampuan jemaah lansia dalam menerima informasi digital. Untuk mengatasi kendala komunikasi tersebut, ia berinisiatif membuat video panduan praktis menggunakan campuran bahasa Indonesia dan Madura.

"Kalau dijelaskan lewat tulisan panjang, banyak yang kesulitan memahami. Akhirnya kami buat video-video sederhana," ujarnya.

Video buatan Kamil memuat panduan penggunaan fasilitas hotel, lift, penyiapan koper, hingga jalur menuju Masjidil Haram. Metode ini mempermudah para jemaah lansia yang masih gagap menggunakan aplikasi pesan singkat maupun panggilan video.

"Makanya harus dicari cara yang paling mudah dipahami," katanya.

Ketertarikan memilih jalur mandiri juga dirasakan oleh Suwaris Bahir, seorang jemaah yang sehari-hari bekerja di sektor perikanan. Ia menilai materi manasik dari pemerintah di tingkat kecamatan dan kabupaten sudah sangat rinci.

"Mulai dari naik pesawat, fasilitas hotel, sampai jalur masuk Masjidil Haram dijelaskan," ujarnya.

Suwaris merasa pelayanan petugas kloter sangat aktif dalam mendampingi seluruh rangkaian ibadah di Tanah Suci. Jalur mandiri dipilih karena memberikan fleksibilitas aturan tambahan serta lebih meringankan dari segi biaya.

"Setiap perjalanan ibadah itu selalu ada yang mendampingi," katanya.

Suwaris menambahkan bahwa bimbingan dari petugas dinilai sudah sangat memadai bagi jemaah awam. Jalur non-KBIHU ini memberikan kenyamanan tersendiri selama ia berada di Arab Saudi.

"Kalau saya pribadi, pelayanannya lebih dari cukup," ucapnya.

Cerita lain datang dari E.A.A. Nurhayati Haddjad, seorang dosen asal Sumenep yang berangkat menggantikan almarhum ayahnya. Di tengah kesibukan mengajar dan merawat ibunya yang sakit stroke, Nurhayati melatih stamina fisik dengan rutin berjalan kaki di sekitar desa.

"Kadang jalan sambil lihat sawah atau ladang saja," katanya sambil tertawa kecil.

Nurhayati memanfaatkan media sosial dan grup jemaah untuk memperbarui informasi mengenai situasi di Arab Saudi. Keberangkatannya membuahkan pengalaman berkesan karena kebersamaan antarjemaah terbangun saat saling membantu membaca dokumen perjalanan pada malam hari.

"Dari situ malah jadi dekat satu sama lain," ujarnya.

Ketua Kloter SUB 77, Asnawi, membenarkan bahwa kekompakan jemaah mandiri ini telah dibentuk sejak jauh hari sebelum keberangkatan. Petugas menerapkan pendekatan moral khusus karena lebih dari separuh anggota kloter merupakan lansia.

"Ini tantangan besar karena mereka menggantungkan diri pada petugas kloter," katanya.

Asnawi mengumpulkan para ketua regu dan ketua rombongan untuk menyamakan persepsi serta menanamkan tanggung jawab moral yang tinggi. Ia memberikan doktrin bahwa setiap ketua rombongan memegang peran penting layaknya kiai bagi kelompoknya.

"Ketika merasa punya tanggung jawab moral, mereka jadi lebih serius belajar dan mendampingi jemaah," ujarnya.

Pihak petugas kloter juga melakukan kunjungan langsung ke desa-desa dan wilayah kepulauan di Sumenep selama dua hingga tiga bulan sebelum keberangkatan. Langkah ini memicu ketertiban jemaah saat melaksanakan rangkaian ibadah haji di Makkah.

Artikel terkait

Rekomendasi