Sebanyak 444 jemaah haji asal Kota Bogor dibanjiri titipan doa melalui media sosial dan aplikasi pesan instan menjelang keberangkatan mereka ke Tanah Suci pada Sabtu (2/5/2026). Para jemaah Kloter 10 tersebut dilepas dari Masjid Raya Bogor menuju Embarkasi Haji Bekasi untuk memulai rangkaian ibadah.
Fenomena titip doa ini kini bergeser dari catatan kertas konvensional ke platform digital seperti Facebook dan WhatsApp. Dilansir dari Megapolitan, para jemaah secara mandiri memindahkan pesan-pesan digital tersebut ke dalam catatan pribadi agar lebih mudah diakses saat beribadah.
Agus Prayoga, salah satu calon jemaah berusia 55 tahun, mengungkapkan bahwa dirinya menyimpan banyak pesan titipan dari berbagai grup percakapan. Ia mengumpulkan doa-doa tersebut untuk dibacakan di lokasi yang dianggap mustajab.
"Banyak (titip doa), harus dibuka dulu ada catatannya, di Facebook saya simpan, di WhatsApp, di grup-grup ada, dan konteksnya kita ada di tempat-tempat yang mustajab," kata Agus Prayoga di Masjid Raya Bogor, Sabtu (2/5/2026).
Pria tersebut menargetkan area Raudhah di Masjid Nabawi sebagai lokasi utama pembacaan doa. Ia telah menyusun strategi pengelompokan doa jika waktu kunjungannya di area tersebut terbatas.
"Semisal kalau pertama ke Raudhah dulu ya ke taman pemakaman nabi di situ lah kita buka, kalau memungkinkan kita buka satu-satu, kalau enggak ya misal kelompok ini di mana, tetangga di mana, temen sekelas waktu kuliah, waktu sekolah," ujarnya.
Sementara itu, Abdul Muhis Salam yang berusia 64 tahun memilih untuk mengelola ekspektasi para kerabat yang menitipkan doa kepadanya. Meskipun membawa catatan fisik, ia menegaskan keterbatasannya kepada para pemberi pesan.
"Banyak enggak tahu ya, lebih dari tiga ada. Dia yang bawa catetan saya bilang ÔÇÿsaya enggak janji, kalau inget saya doakanÔÇÖ. Ada ini catetannya," ujarnya.
Pria ini menjelaskan bahwa dirinya lebih cenderung merangkum permohonan tersebut secara kolektif. Langkah ini diambil demi menjaga kelancaran ibadah pribadinya selama di Arab Saudi.
"Umum aja doanya, ÔÇÿYa Allah kabulkan lah semua doa ibu-ibuÔÇÖ, kalau satu-satu repot lah," lanjut Abdul.
Perspektif berbeda datang dari jemaah termuda, Najla Fadhilah Imani Latuconsina, yang baru menginjak usia 22 tahun. Ia menyebutkan banyak temannya memberikan daftar keinginan yang sangat mendetail, lengkap dengan identitas masing-masing.
"Banyak banget udah ada yang ngelist, sampai nama lengkapnya, nanti paling baca chat aja, baca di hp buat doanya aja. Kalau di sana enggak bisa buka hp, paling aku pindahin ke notes," ujarnya.
Pelepasan kloter ini melibatkan enam petugas tambahan yang mendampingi ratusan warga Bogor tersebut. Pemberangkatan ini menjadi bagian dari gelombang keberangkatan nasional menuju tanah suci pada musim haji tahun 2026.