Seorang penyandang disabilitas netra asal Srikayangan, Sentolo, Kulon Progo, Mbah Sarjo Utomo (71), tiba di Madinah, Arab Saudi pada Rabu, 22 April 2026 untuk menunaikan ibadah haji. Dilansir dari Cahaya, keikutsertaan warga Daerah Istimewa Yogyakarta ini bertujuan untuk menyempurnakan kewajiban rukun Islam meskipun memiliki keterbatasan fisik.
"Haji itu kan rukun Islam. Ibadah saya buat sangu (bekal) saya nanti di hadapan Allah," kata Sarjo di Madinah, Arab Saudi, Sabtu (25/4/2026).
Kondisi kehilangan penglihatan yang dialami Sarjo bermula sejak tahun 1992 akibat serangan virus herpes saat dirinya berusia 37 tahun. Gangguan tersebut berujung pada hilangnya penglihatan total setelah terjadi insiden saat prosedur operasi medis berlangsung.
Vonis dokter yang menyatakan matanya tidak dapat disembuhkan sempat membuat Sarjo kesulitan menerima keadaan. Namun, penguatan spiritual melalui kajian Islam di media digital membantunya untuk bangkit dan menerima takdir.
"Saya tiap hari dengarkan kajian ustaz-ustaz lewat Youtube dan televisi, hingga saya semangat dan mantap pada (takdir) Allah," kata dia.
Realisasi keberangkatan ke Tanah Suci ini didukung oleh pengorbanan ekonomi yang besar. Sarjo memutuskan untuk melepaskan aset tanah demi membiayai pendaftaran haji bagi anggota keluarganya.
"Pekarangan kebun saya jual untuk daftar haji saya, anak saya, dan istri saya," paparnya.
Langkah tersebut diambil karena Sarjo meyakini bahwa ibadah haji merupakan kewajiban yang harus diupayakan secara maksimal bagi umat Islam yang mampu. Ia menilai kunjungan ke Baitullah memerlukan ikhtiar yang sungguh-sungguh.
Setelah masa penantian selama bertahun-tahun, Sarjo tergabung dalam kloter 1 Yogyakarta (YIA). Melalui ibadah ini, ia memanjatkan doa khusus terkait pengampunan atas masa lalunya.
"Kalau saya berhaji mungkin Allah mengampuni dosa-dosa saya di masa lalu," katanya.
Sarjo saat ini menjalankan rangkaian ibadah di Madinah didampingi oleh sang anak sebagai pendamping perjalanan.