Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menyiagakan 8 Rumah Sakit dan 883 Puskesmas untuk mencegah dan mengantisipasi serangan Hantavirus. Dikutip dari Media Indonesia, langkah antisipasi ini dilakukan guna menghadapi penyakit akibat virus zoonotik yang ditularkan dari hewan pengerat seperti tikus ke manusia, meskipun belum ditemukan kasus di kawasan tersebut.
Pemerintah provinsi juga menggencarkan pemeriksaan serta penanganan dini dengan menyiapkan sejumlah sarana prasarana kesehatan.
"Kita siagakan 8 rumah sakit dan 883 puskesmas bagi warga untuk melakukan pemeriksaan dini, jika meniliki gejala serangan penyakit Hantavirus tersebut," kata Kepala Dinas Kesehatan Jawa Tengah Zulfachmi Wahab.
Di antara rumah sakit yang disiagakan ialah RS dr Adhyatma MPH Semarang, RS Prof Dr Margono Purwokerto dan RS Dr Moewardi Surakarta. Program Jumat Pintar juga digelar untuk edukasi guna memperkuat pemahaman tenaga kesehatan terkait hantavirus.
Zulfachmi mengatakan saat ini belum ada kasus Hantavirus, tapi pada 2023-2025 ditemukan 50 kasus di Pelabuhan Kabupaten Demak.
Zulfachmi mengaku saat ini memang belum ada vaksin, tapi penanganan penyakit ini bisa cepat bila gejalanya segera dideteksi. Semakin cepat dikenali gejalanya, pengobatan akan lebih cepat. Sehingga angka kematian semakin rendah.
Meskipun secara penyebaran penyakit ini tidak secepat Covid, lanjut Zulfachmi, warga diminta waspada. Penularan penyakit ini bisa melalui air liur, urine dan kotoran tikus yang terinfeksi, bahkan dapat tertular saat bersentuhan langsung dengan media itu atau menghirup partikel yang telah mengering dan terbawa udara.
Cegah dengan menerapkan gaya hidup sehat seperti semasa pandemi Covid lalu, ujar Zulfachmi Wahab, segera lakukan pemeriksaan jika memiliki gejala awal seperti demam, nyeri dada, nyeri perut, gangguan buang air kecil, hingga muncul bercak merah pada selaput mata. "Pada kondisi berat, penyakit ini dapat mengakibatkan perdarahan dan gagal ginjal," tambahnya.