Fasilitas publik berupa jalur sepeda di Jalan Dr. Saharjo, Manggarai, Jakarta Selatan, kini mengalami alih fungsi menjadi tempat penampungan sampah (TPS) sementara setiap malam. Kondisi ini memicu kekhawatiran terkait keselamatan para pesepeda yang melintas di kawasan tersebut.
Dikutip dari Megapolitan, lintasan berwarna hijau selebar satu meter tersebut tampak dipenuhi tumpukan kantong plastik, kardus, hingga sisa makanan. Fenomena ini terlihat jelas saat aktivitas kendaraan mulai ramai menjelang malam hari.
Terdapat dua titik utama yang kerap dijadikan lokasi pembuangan sampah. Lokasi pertama berada di samping Pasaraya Manggarai, tepatnya di Jalan Gang Bhakti IV, sementara titik kedua terletak di depan Halte Bus Manggarai atau Taman Infinia Park.
Keberadaan belasan petugas pengangkut sampah dengan gerobak penuh muatan menjadi pemandangan rutin di lokasi tersebut. Mereka menunggu armada truk dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jakarta untuk mengangkut limbah warga.
Proses pemindahan sampah ini mengakibatkan jalur sepeda tertutup total karena gerobak dan truk pengangkut parkir tepat di sisi kiri jalan. Kondisi ini diperparah dengan sampah yang kerap berhamburan saat tertiup angin.
Keluhan datang dari para pengguna jalan, salah satunya Dani (27), seorang pesepeda yang sering melintasi area tersebut. Ia merasa haknya sebagai pengguna fasilitas khusus telah terabaikan oleh aktivitas tersebut.
"Sebenarnya kondisi ini sangat bahaya sih bagi para pesepeda jalur kita diambil, hak kita dirampas," ungkap Dani ketika diwawancarai Kompas.com di lokasi, Selasa (21/4/2026).
Dani menjelaskan bahwa setiap kali melewati titik tersebut, ia terpaksa keluar jalur dan berbagi ruang dengan kendaraan bermotor. Hal ini sangat berisiko karena ia harus bersaing dengan mobil dan sepeda motor di jalur umum.
Meskipun pada pagi hari jalur telah dibersihkan, sisa air lindi dari sampah seringkali membuat permukaan aspal menjadi licin. Kondisi infrastruktur yang tidak rata dan cat marka yang memudar juga menambah panjang daftar masalah di lokasi itu.
Aktivis Koalisi Pejalan Kaki, Fahmi Saimima, menilai alih fungsi ini merupakan bentuk pembiaran dari pihak berwenang. Menurutnya, jalur sepeda di Jakarta seringkali dianggap tidak memiliki urgensi yang tinggi.
"Justru Itu bukti jalur sepeda enggak dianggap penting. Dibiarkan kotor, dibiarkan disalahgunakan. Ini bentuk pembiaran, bukan kejadian kebetulan. Dan pada akhirnya dianggap normal," tegas Fahmi.
Fahmi menambahkan bahwa pesepeda yang terpaksa keluar masuk jalur utama menghadapi ancaman keselamatan yang nyata. Manuver di antara kendaraan bermotor dalam ruang yang sempit sangat meningkatkan potensi kecelakaan.
"Pesepeda harus keluar masuk jalur, artinya langsung berhadapan dengan kendaraan bermotor. Itu berbahaya, apalagi ruang manuver sepeda sangat sempit," sambung Fahmi.
Menanggapi keluhan tersebut, Lurah Manggarai Muhamad Arafat menyampaikan permohonan maaf kepada publik. Ia berjanji akan melakukan koordinasi lintas sektoral untuk memperbaiki fungsi jalur tersebut.
"Tentunya kami selalu berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait dalam hal perbaikan, agar lokasi dimaksud tidak terlihat kotor, kumuh dan berbau," ungkap Arafat.
Arafat menjelaskan bahwa titik tersebut bukanlah TPS permanen. Pengumpulan sampah dilakukan di jalan utama karena truk sampah tidak dapat menjangkau permukiman warga yang berada di gang-gang sempit Kelurahan Manggarai.
Sampah tersebut berasal dari lima wilayah, yakni RW 05, 06, 07, 08, dan 12. Seharusnya, sampah langsung dipindahkan ke truk, namun petugas swadaya seringkali menumpuknya terlebih dahulu di pinggir jalan agar bisa kembali mengangkut sampah dari rumah warga.
"Tapi, yang terjadi selanjutnya petugas swadaya (tukang sampah) ini membongkar sampah dan menumpuk di pinggir jalan agar bisa balik lagi untuk angkut sampah dari warga," tutur Arafat.
Pengamat Tata Kota Universitas Indonesia (UI), M Azis Muslim, menegaskan bahwa penggunaan jalur sepeda sebagai TPS sementara berdampak buruk pada kesehatan dan keselamatan publik. Selain bau tidak sedap, terdapat risiko kontaminasi biologis bagi lingkungan sekitar.
"Secara keselamatan, pesepeda dipaksa keluar jalur ke area lalu lintas yang padat, sehingga risiko kecelakaan meningkat," ungkap Azis.
Azis menyarankan agar pemerintah mengembalikan fungsi infrastruktur sesuai peruntukan awalnya. Ia mendorong adanya audit menyeluruh terhadap sistem pengelolaan sampah di Jakarta agar tidak mengorbankan fasilitas transportasi ramah lingkungan.