Jalan Rusak di Kebayoran Baru Jakarta Selatan Keluhkan Pengendara

Jalan Rusak di Kebayoran Baru Jakarta Selatan Keluhkan Pengendara
Foto: Ilustrasi Jalan Rusak di Kebayoran Baru Jakarta Selatan Keluhkan Pengendara.

Kerusakan infrastruktur berupa jalan berlubang dan permukaan aspal yang tidak rata ditemukan di kawasan Pulo dan Cipete Utara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, pada Kamis (7/5/2026). Kondisi ini dilaporkan mengganggu kenyamanan pengguna jalan yang melintas di wilayah tersebut.

Dilansir dari Megapolitan, titik kerusakan terpantau di simpang Jalan Prapanca II menuju Jalan Prapanca I dengan kondisi lubang yang tidak beraturan. Perbedaan tekstur aspal terlihat jelas antara kedua ruas jalan tersebut, di mana permukaan Jalan Prapanca II terasa lebih kasar dibandingkan Jalan Prapanca I.

Warga setempat menilai degradasi kualitas jalan dipicu oleh posisi geografis lahan dan intensitas cuaca. Atin, warga sekitar berusia 50 tahun, menjelaskan bahwa air hujan sering mengalir dan terkikis ke area yang lebih rendah.

"Mungkin karena beda tinggi, jadi kalau hujan lewat mengalir ke bawah, karena (jalannya) ada yang keaspal, ada yang enggak," ucap Atin ditemui di lokasi, Kamis (7/5/2026).

Menurut keterangan Atin, kerusakan ini telah berlangsung lama tanpa adanya tindakan perbaikan dari pihak terkait. Dahulu, Jalan Prapanca I sempat mendapatkan pengaspalan ulang guna meminimalisir kecelakaan saat proyek pembangunan Flyover Antasari berlangsung.

"Karena di sini ada belokan (Jalan Prapanca II) suka enggak tahu, jadinya sering kecelakaan. Tapi itu dulu, pas ada penutupan jalan," ujar Atin.

Selain faktor air, Atin menambahkan bahwa keberadaan akar tanaman di pinggir jalan turut merusak struktur permukaan jalan. Ia mengharapkan adanya pengaspalan ulang di Jalan Prapanca II demi keselamatan berkendara.

Kondisi serupa terlihat di Jalan Brawijaya IV yang berada di lingkungan elit dengan permukaan jalan bergelombang dan banyak lubang kecil. Pengemudi taksi online, Purwanto, menyebutkan bahwa tekstur jalan yang kasar tersebut sudah terjadi lebih dari satu tahun.

"Lebih dari setahun yang lalu sudah begitu. Penyebabnya sih kayaknya karena hujan, karena terkikis terus," kata Purwanto.

Meski kondisi fisik jalan cukup memprihatinkan, Purwanto menilai intensitas kendaraan yang rendah di kawasan tersebut membuat dampaknya tidak terlalu signifikan. Area ini lebih sering digunakan sebagai tempat parkir sementara bagi pengemudi transportasi daring.

"Masih batas wajar, enggak terlalu terganggu. Ini juga enggak jalan protokol, jadi jarang yang lewat," kata dia.

Kerusakan jalan juga meluas hingga ke Jalan Brawijaya III arah Dharmawangsa yang merupakan jalur alternatif menuju Blok M. Berdasarkan keterangan warga bernama Andri, perbaikan sebenarnya sudah dilakukan pada awal tahun 2026, namun tidak bertahan lama.

"Tadinya sudah dibenerin, sekitar 2 sampai 3 bulan lalu," kata warga, Andri, ditemui terpisah.

Andri menekankan bahwa ketiadaan sistem drainase menjadi penyebab utama aspal kembali hancur dalam waktu singkat. Air hujan yang tidak tertampung saluran pembuangan menggenangi permukaan jalan dan mempercepat kerusakan saat dilalui kendaraan.

"Karena hujan, sama drainase enggak ada, jadi kayaknya pinggirnya langsung tanah itu," kata dia.

Harapan mengenai perbaikan permanen dengan material berkualitas tinggi disampaikan oleh para warga agar jalan tidak terus-menerus mengalami kerusakan setelah hujan. Andri menegaskan pentingnya standar material aspal yang memiliki daya tahan lebih baik.

"Ya kayaknya harus diperbaiki lagi, sama materialnya yang bagus," tutup Andri.

Artikel terkait

Rekomendasi