Rentetan aksi kejahatan jalanan yang brutal dan terjadi berulang dalam beberapa waktu terakhir membuat warga Jakarta Barat dilanda keresahan.
Maraknya kriminalitas yang disertai kekerasan terhadap korban membuat wilayah tersebut bahkan dijuluki bak ÔÇ£Gotham CityÔÇØ, kota fiktif sarang penjahat dalam serial film pahlawan super Batman.
Warga Mulai Cemas Pulang Malam
Salah satu warga yang merasakan langsung dampaknya adalah Fajar (26), pekerja di kawasan SCBD, Jakarta Pusat, yang tinggal di Duri Kosambi, Cengkareng.
Rute pulang Fajar yang kerap melintasi Jalan Arjuna Utara, Kebon Jeruk, kini membuatnya waswas. Apalagi, di kawasan itu baru saja terjadi kasus pembegalan pada Senin (4/5/2026) dini hari, ketika korban didorong ke selokan dan dibacok oleh komplotan bersenjata tajam.
"Sebenarnya mau kita muter ke tempat lain pun sama aja, sekarang di mana-mana bahaya. Udah kayak Gotham City, isinya banyak penjahat, kriminal, kekerasan semua. Takutlah kalau kita pulang kerja kenapa-kenapa pas malam," ucap Fajar, warga.
Dalam catatan Megapolitan, setidaknya terdapat sepuluh kasus kejahatan dengan kekerasan yang terjadi di Jakarta Barat dalam tiga pekan terakhir.
Kasus tersebut meliputi curanmor bersenjata api di Kebon Jeruk dan Palmerah, begal dan jambret bersenjata tajam di Palmerah dan Tamansari, penyiraman air keras di Rawa Buaya, hingga pembacokan berkedok tawuran di Tambora dan Grogol Petamburan.
Warga Terpaksa Ubah Cara Pulang
Untuk menghindari risiko menjadi korban, Fajar kini memilih memacu kendaraannya di atas batas aman saat melintasi kawasan rawan. Ia juga menjadi lebih waspada terhadap siapa pun yang berada di pinggir jalan pada malam hari.
"Sekarang kalau lewat situ ngebut aja udah, bawa 80-90 (km/jam) kalau memang kosong, yang penting enggak dibegal. Terus jadi panik kalau misal lihat ada orang berhenti atau berdiri di pinggir jalan, bawaannya waswas," ucap Fajar, warga.
Bahkan, ia sempat meminta rekan kerjanya untuk pulang bersama atau berkonvoi saat melintasi jalur tersebut pada malam hari. Rasa takut juga dialami warga lain.
Kecemasan serupa turut dirasakan Shadam, warga Cengkareng yang bekerja di kawasan Gambir, Jakarta Pusat. Rentetan kabar kriminalitas bersenjata di media sosial membuatnya semakin takut berkendara malam hari.
"Jangankan malam, sekarang orang kalau nyolong motor itu pasti bawa senpi, dan mereka berani siang-siang, pas lagi ramai. Terus entar kalau misal ada yang ngejar ditembak pakai pistol, kan kita ngeri juga," ucap Shadam, warga.
Ia mengaku kerap panik saat melihat sorot lampu kendaraan dari belakang ketika melintas di jalan sepi, hingga tanpa sadar memacu motor dengan kecepatan tinggi.
Kriminolog: Dipicu Ekonomi dan Kondisi Lingkungan
Kriminolog Universitas Indonesia (UI), Josias Simon, menjelaskan bahwa meningkatnya kejahatan jalanan merupakan siklus yang dipengaruhi tiga faktor utama, yakni motivasi pelaku, kerentanan korban, dan kondisi wilayah kejadian. Menurutnya, tekanan ekonomi dan peredaran narkotika menjadi salah satu pemicu pelaku melakukan tindakan kekerasan.
"Kalau soal motif pelaku kan dia memang terkait dengan motivasi ya, motif yang melatarbelakangi, ada ekonomi atau sosial pribadi. Kalau korban itu memang terkait dengan keadaan korban yang tidak terlindungi. Kalau tempat, malam hari tidak ada penerangan, atau di daerah gang sempit," jelas Josias Simon, Kriminolog Universitas Indonesia (UI).
Ia juga menyoroti meningkatnya aksi main hakim sendiri di masyarakat akibat tingginya angka kejahatan. Menurutnya, kondisi tersebut merupakan tanda menurunnya kepercayaan publik terhadap penegakan hukum.
"Itu bentuk kelelahan juga dari masyarakat menghadapi maraknya kejahatan. Tapi jangan sampai masyarakat jadi apatis terhadap penanganan kasus secara hukum. Meski memang banyak yang apatis karena banyak laporan kejahatan, tapi kenyataannya bukannya berkurang malah bertambah," kata Josias Simon, Kriminolog Universitas Indonesia (UI).
Fenomena ÔÇ£no viral no justiceÔÇØ juga, kata dia, menunjukkan persepsi publik bahwa hukum baru berjalan efektif ketika sebuah kasus menjadi viral.
"Ini memperlihatkan kurang efektifnya lembaga-lembaga yang diberikan oleh pihak yang berwenang, mereka (masyarakat) lebih masuk ke aplikasi yang umumnya. Makanya 'no viral no justice' itu kan terkenal-nya," sambung Josias Simon, Kriminolog Universitas Indonesia (UI).
Desak Pemetaan Wilayah Rawan
Sebagai langkah mitigasi, Josias mendesak kepolisian dan pemerintah daerah, termasuk Pemerintah Kota Jakarta Barat, untuk tidak hanya melakukan patroli formalitas. Ia menekankan pentingnya pemetaan titik-titik rawan kriminalitas agar masyarakat dapat mengantisipasi risiko di lapangan.
"Pemetaan (wilayah rawan) itu sebenarnya hal yang mendasar agar masyarakat ini mengetahui titik-titik di mana saja yang rawan. Seharusnya itu ada, tapi masalahnya selama ini ada tetapi tidak di-update dan tidak berkelanjutan," tutur Josias Simon, Kriminolog Universitas Indonesia (UI).
Ia juga mendorong pengaktifan kembali sistem keamanan lingkungan (siskamling) sebagai bentuk partisipasi warga dalam menjaga keamanan di wilayah yang sulit dijangkau patroli kepolisian.