Iran bersikeras mempertahankan penutupan Selat Hormuz bagi lalu lintas internasional meski masa gencatan senjata antara Teheran dan Amerika Serikat telah resmi diperpanjang pada Rabu (22/4/2026). Dilansir dari Kompas, penegasan tersebut didasari atas tuduhan pelanggaran kesepakatan yang dilakukan pihak AS dan Israel.
Mohammad Bagher Ghalibaf selaku Pemimpin Parlemen sekaligus kepala negosiator Iran menyampaikan bahwa blokade jalur laut tersebut merupakan respons atas tindakan provokasi lawan. Penutupan jalur strategis ini dipastikan terus berlanjut selama pengepungan ekonomi terhadap Iran belum dicabut sepenuhnya.
"Gencatan senjata yang lengkap hanya bermakna jika tidak dilanggar oleh pengepungan laut dan penyanderaan ekonomi dunia, serta provokasi perang Zionis di semua front dihentikan," tulis Ghalibaf melalui unggahan di media sosial X pada Rabu (22/4/2026).
Ghalibaf menilai situasi keamanan di Selat Hormuz tidak memungkinkan untuk dipulihkan seperti sedia kala karena adanya agresi militer yang masih berlangsung. Ia menekankan bahwa perdamaian memerlukan pengakuan penuh terhadap kedaulatan Iran.
"Pembukaan Selat Hormuz tidak mungkin dilakukan dengan pelanggaran mencolok terhadap gencatan senjata," ucap Ghalibaf.
Melalui pernyataan lanjutannya, negosiator senior ini mengingatkan bahwa upaya penekanan melalui kekuatan bersenjata tidak akan membuahkan hasil bagi Washington maupun sekutunya di Timur Tengah.
"Satu-satunya jalan adalah dengan menerima hak-hak bangsa Iran," katanya.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian turut memberikan keterangan melalui kanal yang sama mengenai posisi diplomasi negaranya saat ini. Pezeshkian menyatakan bahwa hambatan utama dalam proses dialog adalah ancaman fisik dan ekonomi yang terus diterima pihak Iran.
"Dunia menyaksikan omong kosong licik dan kontradiksi antara klaim serta tindakan kalian," kata Pezeshkian melalui media sosial X.
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump telah mengumumkan perpanjangan status gencatan senjata pada Selasa (21/4/2026) guna menghindari eskalasi lebih lanjut. Namun, Sekretaris Pers Gedung Putih Karline Leavitt mengonfirmasi bahwa Trump tetap memerintahkan blokade terhadap kapal-kapal yang berafiliasi dengan Iran.
Leavitt menambahkan, dilansir dari BBC, pihak Gedung Putih merasa puas dengan efektivitas blokade tersebut. Menurut keterangan resmi kepresidenan AS, posisi Iran saat ini dinilai cukup terdesak akibat tekanan ekonomi dan militer yang berlangsung simultan di perbatasan laut mereka.