Markas Pusat Angkatan Bersenjata Iran, Khatam Al-Anbiya, menuntut militer Amerika Serikat untuk segera menghentikan blokade di Selat Hormuz pada Sabtu (25/4/2026). Teheran menegaskan kesiapan mereka dalam memberikan respons tegas apabila Washington tetap melanjutkan aksi penutupan akses pelabuhan tersebut.
Aksi blokade oleh militer Amerika Serikat (AS) telah berlangsung sejak 13 April lalu sebagai instrumen tekanan dari Presiden Donald Trump. Kebijakan ini bertujuan agar pihak Iran menghentikan aktivitas serupa di Selat Hormuz dan bersedia melanjutkan proses negosiasi, sebagaimana dilansir dari Kompas.
Pihak militer Iran menilai tindakan Washington di kawasan perairan tersebut sebagai bentuk premanisme maritim yang provokatif. Ancaman reaksi militer disampaikan secara terbuka oleh pusat komando angkatan bersenjata negara tersebut.
"Jika militer AS yang agresif meneruskan blokade, pembajakan, dan premanisme maritim di kawasan, mereka akan menuai reaksi dari Angkatan Bersenjata Iran yang kuat," demikian pernyataan Khatam Al-Anbiya dikutip PressTV.
Khatam Al-Anbiya menyatakan bahwa kekuatan militer saat ini masih sangat mumpuni untuk menjaga kedaulatan wilayah serta kepentingan nasional Iran. Teheran juga menyoroti pengalaman konfrontasi kedua negara yang telah pecah sejak akhir Februari lalu.
"Kami siap dan bertekad memberikan kekalahan yang semakin parah kepada agresor Amerika-Zionis jika terjadi pelanggaran lanjutan," demikian pernyataan militer Iran.
Penegasan mengenai kapabilitas tempur ini merujuk pada situasi perang yang dimulai sejak 28 Februari 2026. Pemerintah Iran sebelumnya telah melayangkan protes resmi dengan menyebut blokade AS di Selat Hormuz sebagai tindakan ilegal.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menganggap langkah militer Amerika Serikat tersebut telah mencederai kesepakatan yang telah dibuat sebelumnya. Pezeshkian menilai intervensi maritim AS di Selat Hormuz menjadi batu sandungan bagi upaya diplomasi kedua belah pihak.
Pezeshkian menyatakan blokade oleh AS menjadi pelanggaran komitmen gencatan senjata oleh Washington. Pezeshkian juga menyebut blokade ini menjadi hambatan utama berlanjutnya perundingan kedua pihak.