Negosiaton utama Iran menuding Amerika Serikat berusaha memicu perang baru di Timur Tengah setelah adanya ancaman militer dari Presiden Donald Trump. Ketegangan ini terjadi pada Rabu (21/5/2026) setelah Teheran diminta menyetujui kesepakatan damai, seperti dilansir dari Media Indonesia.
Pihak Iran menegaskan bahwa pergerakan musuh secara terbuka maupun rahasia memperlihatkan tujuan militer Amerika Serikat yang belum berubah. Teheran tetap memperingatkan akan adanya respons yang kuat terhadap setiap bentuk agresi yang muncul.
"Musuh sedang berupaya memulai perang baru," ujar Mohammad Bagher Ghalibaf, negosiator utama Iran.
Di sisi lain, posisi Amerika Serikat menunjukkan sikap kontradiktif dengan tetap membuka celah diplomasi. Presiden Donald Trump menyatakan bahwa Washington saat ini sebenarnya sedang berada dalam tahap akhir proses negosiasi dengan pihak Iran.
"Kita akan memiliki kesepakatan atau kita akan melakukan beberapa hal yang sedikit buruk. Namun, semoga itu tidak terjadi," kata Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.
Pernyataan tersebut disampaikan Trump kepada wartawan sembari menambahkan bahwa dirinya tidak terburu-buru demi meminimalkan korban jiwa. Ketegangan kata-kata ini menggantikan konflik fisik setelah sempat terjadi gencatan senjata antara AS-Israel dan Iran pada 8 April lalu.
Dampak dari konfrontasi ini memicu penutupan Selat Hormuz yang menghambat seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia, serta sepertiga jalur pupuk. Imbas krisis energi ini memicu lonjakan biaya di Amerika Serikat dan demonstrasi yang memakan korban jiwa di Kenya.
Sementara itu, jalur diplomasi formal kini sedang diupayakan melalui Pakistan sebagai mediator. Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Pangeran Faisal bin Farhan, memuji langkah Trump dan mendesak Iran memanfaatkan peluang diplomasi ini demi menghindari eskalasi berbahaya.
Dari kesiapan militer, situasi di lapangan dilaporkan masih sangat cair dan berbahaya bagi kedua belah pihak. Kepala Angkatan Darat Israel menyatakan bahwa seluruh jajaran militer mereka kini telah ditempatkan pada tingkat siaga tertinggi.
"Kami siap menghadapi perkembangan apa pun," tegas Letnan Kolonel Eyal Zamir, Kepala Angkatan Darat Israel.