Pemerintah Iran menegaskan sikap kerasnya dalam perundingan penyelesaian konflik dengan Amerika Serikat (AS) pada Sabtu (23/5/2026). Teheran menyatakan tidak akan berkompromi atas hak nasionalnya, seperti dilansir dari Investor Daily yang mengutip Reuters.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Ketua Parlemen Iran sekaligus kepala negosiator, Mohammad Baqer Qalibaf, saat melakukan pertemuan dengan Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan, Asim Munir, di Teheran. Qalibaf menilai Washington bukan pihak yang dapat dipercayai dalam proses negosiasi damai.
Pihak Iran menyatakan akan tetap mempertahankan hak sah mereka melalui jalur diplomasi ataupun kekuatan militer jika diperlukan. Di sisi lain, Pakistan tengah memimpin mediasi regional untuk memperkecil perbedaan kedua belah pihak setelah konflik beberapa pekan terakhir mengganggu jalur pelayaran strategis Selat Hormuz.
Selain bertemu Qalibaf, Asim Munir juga menemui Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan Menteri Luar Negeri Abbas Araqchi. Kunjungan tersebut membahas dokumen 14 poin yang diajukan Iran sebagai kerangka dasar proses negosiasi.
Angkatan bersenjata Iran dilaporkan telah memperkuat kemampuan militer mereka selama masa gencatan senjata berlaku. Teheran juga memberikan peringatan mengenai potensi balasan yang lebih kuat jika Amerika Serikat kembali memulai konflik.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan pada Jumat (22/5/2026) bahwa terdapat beberapa kemajuan dalam pembicaraan tersebut, walau masih membutuhkan upaya lanjutan. Namun, Kementerian Luar Negeri Iran menegaskan bahwa perbedaan antara kedua pihak masih mendalam dan signifikan.
Hingga saat ini, Iran tetap mempertahankan stok uranium yang diperkaya hingga mendekati tingkat senjata. Negara tersebut juga menjaga kemampuan rudal, drone, serta jaringan sekutu regional yang menjadi perhatian utama bagi pihak AS dan Israel.