Iran Tagih Biaya Kabel Internet Bawah Laut Perusahaan Teknologi AS

Iran Tagih Biaya Kabel Internet Bawah Laut Perusahaan Teknologi AS
Foto: Ilustrasi Iran Tagih Biaya Kabel Internet Bawah Laut Perusahaan Teknologi AS.

Pemerintah Iran berencana mengenakan biaya lisensi kepada sejumlah perusahaan teknologi Amerika Serikat yang memanfaatkan jalur kabel internet bawah laut di bawah Selat Hormuz, Rabu (20/5/2026).

Langkah penarikan biaya lisensi tersebut menyasar korporasi besar seperti Meta, Google, Amazon, dan Microsoft, sebagaimana dilansir dari Detik iNET. Pengumuman ini memicu perhatian karena sebagian besar rute infrastruktur tersebut sebenarnya melintasi wilayah perairan Oman.

Pihak militer Iran secara resmi telah menyatakan kebijakan baru ini melalui saluran komunikasi digital mereka terkait penggunaan jalur komunikasi strategis tersebut.

"Kami akan mengenakan biaya pada kabel internet," kata juru bicara militer Iran dan Korps Garda Revolusi Islam Ebrahim Zolfaghari dalam unggahannya, seperti dikutip dari ArsTechnica, Rabu (20/5/2026).

Media pemerintah Iran, Tasnim dan Fars, menjelaskan bahwa Teheran juga mengklaim hak atas perbaikan serta pemeliharaan kabel. Jaringan kabel aktif di Selat Hormuz meliputi Asia Africa Europe-1, FALCON, dan Gulf Bridge International Cable System yang melayani negara-negara Arab Teluk.

Organisasi riset TeleGeography mencatat titik kabel FALCON dan Gulf Bridge memang melewati perairan teritorial Iran. Di sisi lain, laporan CNN menyebutkan adanya ancaman dari media pemerintah Iran untuk merusak infrastruktur tersebut jika ketentuan tidak dipenuhi.

Meskipun demikian, TeleGeography menyatakan gangguan di Selat Hormuz tidak berdampak besar bagi lalu lintas internet Eropa-Asia karena sebagian besar dialihkan melalui Laut Merah. Namun, jalur Laut Merah saat ini terhambat oleh kerusakan akibat serangan pemberontak Houthi yang bersekutu dengan Iran.

Kondisi keamanan ini mendorong perusahaan teknologi AS dan negara Teluk merancang rute darat alternatif. Proyek baru tersebut menghadapi tantangan geopolitik karena harus melewati wilayah rawan konflik termasuk Suriah, Irak, Sudan, dan Ethiopia.

Artikel terkait

Rekomendasi