Pemerintah Iran belum menentukan sikap terkait partisipasi dalam putaran negosiasi baru dengan Amerika Serikat (AS) pada Senin (20/4/2026). Langkah ini diambil setelah Teheran menuding Washington melakukan serangan militer di tengah proses diplomatik yang sedang berjalan.
Dilansir dari Kompas, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei menyoroti inkonsistensi sikap Amerika Serikat. Ia mengungkapkan bahwa AS telah melancarkan dua serangan militer terhadap Iran dalam kurun waktu kurang dari sembilan bulan saat proses negosiasi berlangsung.
"Setelah kesepakatan tercapai, kami menghadapi tindakan AS di Selat Hormuz, yang mereka sebut 'blokade angkatan laut.' Dan dalam satu jam terakhir Anda telah menyaksikan mereka menyerang kapal dagang Iran, dan ini jelas merupakan pelanggaran gencatan senjata," kata Baghaei, sebagaimana diberitakan AP News.
Baghaei menambahkan bahwa tindakan blokade maritim dan serangan terhadap kapal dagang telah memperkuat kecurigaan rakyat Iran. Ia menegaskan prioritas Teheran adalah melindungi kepentingan nasional dalam menentukan langkah kebijakan luar negeri selanjutnya.
"Pertama, kami tidak akan menerima 'batas waktu' atau 'ultimatum' dari pihak AS dalam melindungi kepentingan nasional Iran," ujarnya.
Pihak Teheran menyatakan bahwa konflik yang terjadi bukan berasal dari inisiatif mereka. Iran mengeklaim telah melakukan tindakan defensif sebanyak dua kali sejak Juni tahun lalu untuk mempertahankan kedaulatan wilayahnya.
"Kami akan terus membela negara kami selama kepentingan nasional membutuhkannya. Tanpa ragu, jika AS dan Israel melancarkan invasi lain, angkatan bersenjata Iran akan melakukan segala daya upaya untuk membela negara," tegas Baghaei.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump menunjukkan sikap yang berubah-ubah terkait kelanjutan konflik pada hari yang sama. Meskipun mengaku tidak terburu-buru mengakhiri perang, Trump meyakini negosiasi lanjutan akan segera digelar di Islamabad, Pakistan.
Batas waktu gencatan senjata selama 14 hari diketahui akan berakhir pada Rabu (22/4/2026). Trump memberikan peringatan keras mengenai potensi eskalasi militer jika kesepakatan tidak segera tercapai sebelum tenggat waktu tersebut.
"Saya sama sekali tidak berada di bawah tekanan, meskipun semuanya akan terjadi relatif cepat!" kata Trump di platform Truth Social miliknya.
Trump juga menyatakan kepada Bloomberg News mengenai kecilnya kemungkinan pembaruan gencatan senjata. Situasi ini memanas setelah Angkatan Laut AS menyita sebuah kapal pada Minggu (19/4/2026) karena dianggap menghindari blokade pelabuhan Iran.
Kondisi di Selat Hormuz semakin tidak stabil setelah Iran sempat menghentikan lalu lintas kapal pada Sabtu (18/4/2026). Teheran berdalih tindakan tersebut dilakukan karena AS dianggap tidak mematuhi poin-poin kesepakatan gencatan senjata.
"Tindakan AS tidak sesuai dengan klaim diplomasi," kata Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi pada hari Senin (20/4) dalam sebuah unggahan di media sosial.
Hambatan utama dalam negosiasi ini mencakup isu program pengayaan nuklir Iran, peran proksi regional, dan kendali atas Selat Hormuz. Jalur perdagangan vital ini telah dibatasi oleh Iran sejak serangan AS dan Israel pada akhir Februari 2026.