Pemerintah Iran tengah mempelajari proposal perdamaian yang diajukan Amerika Serikat pada Rabu (6/5/2026) guna mengakhiri konflik bersenjata yang meletus sejak akhir Februari lalu. Negosiasi diplomatik ini berfokus pada penghentian peperangan fisik, pembukaan kembali Selat Hormuz, serta pembahasan mengenai sanksi ekonomi dan program nuklir Teheran.
Dilansir dari Suara, draf memorandum satu halaman tersebut bertujuan menghentikan konflik fisik secara formal untuk membuka ruang diskusi selama 30 hari ke depan. Pihak mediator dari Pakistan menyebutkan bahwa pembicaraan lanjutan akan mencakup pembatasan program nuklir Iran dan pencabutan sanksi Amerika Serikat.
Presiden AS Donald Trump mengungkapkan rasa optimisme terhadap perkembangan negosiasi tersebut di Gedung Putih. Sikap ini menjadi titik balik setelah sebelumnya ia sempat melontarkan ancaman serangan udara melalui platform media sosial jika Iran menolak tawaran kesepakatan tersebut.
"Mereka ingin membuat kesepakatan. Kami telah melakukan pembicaraan yang sangat baik dalam 24 jam terakhir," ujar Donald Trump, Presiden AS.
Trump sebelumnya menunjukkan keraguan akan kesediaan Iran untuk berkompromi dalam konflik yang telah melumpuhkan jalur distribusi energi global ini. Melalui unggahan di Truth Social, ia menyebut kemungkinan Iran setuju merupakan sebuah asumsi besar.
"asumsi yang besar." kata Donald Trump, Presiden AS.
Di pihak lain, otoritas legislatif Iran menyikapi draf perdamaian tersebut dengan nada skeptis. Juru bicara komite kebijakan luar negeri parlemen Iran menilai isi proposal tersebut tidak mencerminkan realitas yang terjadi di lapangan.
"lebih mirip daftar keinginan Amerika daripada sebuah realitas." ujar Ebrahim Rezaei, Juru Bicara Komite Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran.
Ketua Parlemen Iran juga melontarkan kritik pedas terhadap laporan media yang menyebutkan perdamaian sudah berada di depan mata. Ia menuding upaya ini hanyalah pencitraan Washington setelah gagal membuka blokade jalur maritim secara militer.
"Operation Trust Me Bro failed," kata Mohammad Baqer Qalibaf, Ketua Parlemen Iran.
Kabar mengenai potensi gencatan senjata ini memicu penurunan tajam harga minyak mentah Brent hingga menyentuh US$98 per barel atau merosot 11 persen. Reaksi pasar ini dibarengi dengan melonjaknya indeks saham global seiring adanya harapan stabilitas pasokan energi dunia melalui Selat Hormuz.
Sementara itu, tekanan diplomatik juga datang dari sekutu AS di Timur Tengah. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dilaporkan telah mendesak Trump untuk memastikan seluruh cadangan uranium Iran dikeluarkan dari wilayah negara tersebut.
"seluruh uranium yang diperkaya harus dikeluarkan dari wilayah Iran." ujar Benjamin Netanyahu, Perdana Menteri Israel.
Hingga saat ini, stok uranium Iran diperkirakan telah melampaui 400 kilogram. Meski terus mendapat tekanan internasional, Teheran secara konsisten membantah tuduhan pengembangan senjata nuklir dan menyatakan program tersebut bertujuan damai.