Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menggelar pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Pakistan pada Jumat (22/5/2026) di Teheran untuk merundingkan proposal perdamaian perang Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran. Dialog ini dilangsungkan di tengah perselisihan mendalam antara Teheran dan Washington mengenai kontrol Selat Hormuz serta persediaan uranium milik Iran.
Perundingan lanjutan tersebut melibatkan Menteri Dalam Negeri Pakistan Syed Mohsin Naqvi yang melakukan putaran pembicaraan baru bersama Abbas Araqchi, seperti dilansir dari Internasional. Respons terhadap dinamika ini juga datang dari pihak Amerika Serikat terkait prasyarat penyelesaian konflik.
"Saya tidak ingin terlalu optimistis, Jadi, mari kita lihat apa yang terjadi dalam beberapa hari ke depan," kata Rubio.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menjelaskan kepada media pada Kamis (21/5/2026) waktu AS bahwa terdapat sejumlah indikasi positif dalam pembicaraan itu. Namun, ia menegaskan jalan keluar tidak akan tercapai apabila pihak Teheran menerapkan sistem penarikan tol di kawasan Selat Hormuz.
Poin mengenai Selat Hormuz dan pengayaan uranium dilaporkan masih menjadi kendala utama dalam negosiasi. Seorang sumber senior Iran menyatakan bahwa meskipun dua isu tersebut masih diperdebatkan, celah perbedaan dalam proses negosiasi kini telah berhasil dipersempit.
Dampak dari eskalasi di Iran ini telah menekan perekonomian global akibat lonjakan harga minyak yang memicu kekhawatiran inflasi tinggi. Analis pasar di IG, Tony Sycamore, turut memberikan pandangannya mengenai perkembangan gencatan senjata yang telah berjalan.
"Kita sudah hampir memasuki minggu ke-12, kita sudah enam minggu dalam gencatan senjata, dan saya tidak begitu yakin kita semakin dekat dengan resolusi antara AS dan Iran," kata Sycamore.
Sikap keras juga ditunjukkan oleh kepemimpinan tertinggi Amerika Serikat mengenai kepemilikan komoditas nuklir Iran. Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa Washington pada akhirnya bakal mengambil alih kembali cadangan uranium yang diperkaya tingkat tinggi milik Teheran.
"Kita akan mendapatkannya. Kita tidak membutuhkannya, kita tidak menginginkannya. Kita mungkin akan menghancurkannya setelah mendapatkannya, tetapi kita tidak akan membiarkan mereka memilikinya," kata Trump.
Pernyataan tersebut bertolak belakang dengan kebijakan internal Iran. Sebelum komentar Trump terlontar, dua sumber senior Iran menyebutkan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei telah mengeluarkan instruksi tegas yang melarang pengiriman uranium tersebut ke luar negeri.
Selain masalah uranium, penguasa Gedung Putih itu juga memberikan kritik tajam terhadap rencana penarikan retribusi bagi kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz.
"Kita menginginkannya terbuka, kita menginginkannya gratis. Kita tidak menginginkan tol," kata Trump.