Militer Iran dilaporkan mulai memproduksi kembali sebagian pesawat nirawak atau drone selama masa gencatan senjata enam minggu sejak awal April 2026. Langkah Teheran tersebut mengindikasikan percepatan pembangunan kembali kapabilitas militer yang melampaui estimasi awal pihak Barat, seperti dilansir dari Media Indonesia.
Berdasarkan penilaian intelijen Amerika Serikat, rekonstruksi cepat dilakukan terhadap aset-aset militer Iran yang sebelumnya rusak akibat serangan udara. Pemulihan ini mencakup penggantian situs rudal, peluncur, serta kapasitas produksi sistem senjata utama.
"Pihak Iran telah melampaui semua lini masa yang ditetapkan komunitas intelijen untuk rekonstruksi," ujar pejabat AS.
Kecepatan pemulihan ini menimbulkan kekhawatiran bagi sekutu regional terkait potensi peluncuran drone secara masif ke arah Israel dan negara-negara Teluk jika ketegangan memuncak kembali. Saat ini, sekitar dua pertiga peluncur rudal dan 50 persen dari total kapabilitas drone Iran dilaporkan masih dalam kondisi utuh.
Faktor lain yang mempercepat pemulihan ini adalah dugaan adanya dukungan komponen dari Rusia dan Tiongkok. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sempat menyatakan bahwa Tiongkok memberikan komponen manufaktur rudal kepada Iran, meskipun tuduhan tersebut dibantah keras oleh juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Guo Jiakun.
Di sisi lain, internal militer AS mengalami perbedaan pandangan yang mencolok mengenai tingkat kerusakan industri pertahanan Iran. Komandan CENTCOM Laksamana Brad Cooper sebelumnya memberikan kesaksian berbeda di hadapan Komite Angkatan Bersetjata DPR AS mengenai dampak Operasi Epic Fury.
"Operasi Epic Fury telah menghancurkan 90% basis industri pertahanan Iran dan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk pulih," kata Brad Cooper, Komandan CENTCOM.
Namun, sumber intelijen lain menyebutkan kerusakan tersebut hanya menghambat Iran dalam hitungan bulan karena sebagian besar basis industri pertahanannya masih utuh. Sementara itu, situasi politik terus memanas seiring dengan pernyataan berkala dari Washington.
"Pihak AS hanya berjarak satu jam dari keputusan untuk memulai kembali pengeboman," ujar Donald Trump, Presiden AS pada Selasa lalu.
Hingga saat ini, juru bicara Komando Pusat AS (CENTCOM) menolak memberikan komentar resmi terkait detail penilaian intelijen mengenai pemulihan militer Iran tersebut.