Pemerintah Iran mengirimkan proposal diplomatik terbaru kepada Amerika Serikat melalui perantara Pakistan pada Jumat, 1 Mei 2026, sebagai langkah untuk mengubah gencatan senjata yang rentan menjadi perdamaian permanen. Langkah ini diambil di tengah ketegangan yang masih menyelimuti jalur perdagangan energi dunia di Selat Hormuz.
Dilansir dari Money, upaya diplomasi tertutup ini bertujuan memecah kebuntuan setelah putaran negosiasi langsung pertama terjadi bulan lalu. Namun, kendala besar muncul seiring keputusan Presiden AS Donald Trump untuk tetap melanjutkan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan utama di Iran.
Donald Trump menegaskan bahwa tekanan ekonomi melalui blokade sangat efektif untuk menekan pendapatan minyak Teheran. Trump berkeyakinan kebijakan keras tersebut akan menjadi faktor utama yang memaksa Iran bersedia kembali ke meja perundingan dengan posisi yang lebih lemah.
Di pihak lain, Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, memberikan tanggapan skeptis terhadap strategi Washington tersebut. Ia menegaskan bahwa kekuatan geografis dan posisi Iran membuat upaya isolasi ekonomi total mustahil untuk dilakukan.
"Maritime Freedom Construct" ujar Donald Trump, Presiden AS.
Istilah tersebut merujuk pada inisiatif koalisi maritim yang diusulkan AS untuk mengamankan Selat Hormuz dari gangguan. Menanggapi situasi militer, militer AS melalui Centcom dilaporkan telah menyiapkan opsi serangan terbatas guna mengatasi kebuntuan, sementara harga minyak Brent turun 3 persen ke level 110 dollar AS per barel.
Pemimpin tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, menyatakan posisi resmi negaranya yang tidak akan mundur dari program strategis. Ia menegaskan kedaulatan Iran atas wilayah perairan tersebut tidak dapat diganggu gugat oleh pihak asing manapun.
"Selandia Baru" ujar Pemerintah Selandia Baru.
Negara tersebut menyatakan hanya akan bergabung dalam koalisi maritim jika perdamaian yang berkelanjutan benar-benar tercapai. Sementara itu, situasi di Teheran memanas dengan pengaktifan sistem pertahanan udara guna mengantisipasi serangan drone, bersamaan dengan jatuhnya nilai tukar mata uang Iran ke titik terendah.