Pemerintah meresmikan pembangunan pabrik kemasan kertas milik PT Hoi Fu Paper Packaging senilai Rp1,12 triliun di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kendal pada akhir pekan lalu. Langkah ini bertujuan mempercepat realisasi investasi guna memacu pertumbuhan ekonomi nasional serta memperluas ketersediaan lapangan kerja bagi masyarakat.
Proyek tersebut diproyeksikan mampu menyerap 1.000 tenaga kerja, dengan komposisi 95 persen merupakan warga lokal yang direkrut melalui tiga fase bertahap. Selain dampak langsung, kehadiran industri ini diharapkan memberikan efek berganda bagi sektor logistik dan pelaku UMKM di wilayah sekitar, sebagaimana dilansir dari Ekonomi.
Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Susiwijono Moegiarso, menegaskan bahwa pemerintah pusat memberikan atensi khusus pada pengawasan efektivitas investasi di tengah dinamika global. Upaya koordinasi diperkuat agar hambatan operasional di lapangan dapat segera teratasi.
"Di tengah konflik dan dinamika global yang semakin kompleks, Presiden Prabowo Subianto mengarahkan pemerintah untuk tidak hanya mendukung, tetapi juga aktif mengawasi dan mengawal investasi guna memperkuat pertumbuhan ekonomi nasional. Melalui penguatan koordinasi, berbagai kendala di lapangan dapat segera direspons," ujar Susiwijono.
Bupati Kendal, Dyah Kartika Permanasari, menyambut positif ekspansi industri ini karena memperkokoh posisi Kendal sebagai pilar ekonomi di Jawa Tengah. Pihaknya menitikberatkan pada pembukaan akses kerja bagi warga lokal.
"Kami berharap kehadiran PT Hoi Fu Paper Packaging dapat memperkuat ekonomi lokal dan membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat," ujar Dyah Kartika Permanasari.
Data realisasi investasi kumulatif di KEK Kendal hingga triwulan I 2026 telah menyentuh angka Rp101,93 triliun dengan total serapan 117.941 tenaga kerja. Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Kendal tercatat melonjak 9,00 persen secara year on year, memberikan kontribusi sebesar 24,33 persen terhadap PDRB daerah.
Efisiensi investasi di wilayah ini tercermin dari angka Incremental Capital Output Ratio (ICOR) sebesar 3,92. Mengingat utilisasi lahan yang sudah hampir penuh, pemerintah kini sedang mempersiapkan rencana perluasan kawasan seluas 1.000 hektare.
Susiwijono, yang juga menjabat Ketua Tim Pelaksana Dewan Nasional KEK, menambahkan bahwa dukungan insentif tetap menjadi instrumen utama menarik minat investor baru. Kolaborasi antar instansi dianggap sebagai faktor kunci keberhasilan pengembangan kawasan ke depan.
"Pemerintah berkomitmen untuk terus mendorong pemberian insentif bagi pelaku usaha yang berminat berinvestasi di KEK. Dukungan dari pemerintah daerah, provinsi, dan kementerian/lembaga menjadi kunci agar pengembangan kawasan berjalan optimal," ujar Susiwijono.